Nikmat Tiada Tara

Hari itu kami sedang berada di sebuah bungalow di daerah Anyer, berlibur dengan anak-anak dan seperti umumnya bungalow, kami juga punya ‘tetangga’. Di sebelah kiri kami ditempati sepasang suami istri dengan usia yang sebaya kami, dengan dua orang anak yang juga sebaya dengan anak kami, dan di sebelah kanan tinggal dua orang pemuda yang nampaknya sedang berlibur dan seharian cuma bermain jetski yang dibawanya sendiri dengan kendaraan khusus.

Pada hari kedua kami sudah saling akrab dengan Mas Willy dan Mbak Ratih, tetangga di bungalow sebelah kiri yang terlihat sangat serasi. Mas Willy berkulit putih, tinggi atletis berusia sebaya Mas Ridwan, dan istrinya juga sangat cantik, dengan payudara yang jauh lebih besar daripada punyaku, kutaksir berukuran sekitar 38. Aku dapat melihat dengan jelas bagaimana payudaranya berguncang ketika ia berkejaran dengan anak-anaknya di pantai siang tadi. Sementara Firman dan Yudi, tetangga sebelah kananku, keduanya adalah mahasiswa dari Jakarta. Terlihat jelas mereka adalah anak orang kaya, dan yang paling mengherankanku adalah bahwa Mas Ridwan suamiku dan Mas Willy sangat cepat menjadi akrab seakan sudah bersahabat bertahun-tahun.

“Tok.. Tok..”, suara pintu depan yang diketuk membuatku bangkit dari tempat dudukku dan meletakkan novel yang sedang kubaca.
“Malam.., Mbak jangan tidur sore-sore.. Kita bikin barbekyu dulu di halaman belakang..”, Mas Willy yang berdiri di depan pintu sudah nyerocos menjelaskan maksud kedatangannya.
“Ng.. Tapi kami sudah makan..”, jawabku sambil melirik jam..

Wah.. Sudah jam 10 malam, memang sudah sepi, dan anak-anak sudah lelap kecapekan bermain seharian penuh.

“Ah.. Pantang tidur sore-sore di sini”, Mas Willy berkata seakan mengerti yang kupikirkan. Dan suamiku sudah berdiri di sampingku. Entah kapan keluar dia ini.
“Ma.. Yuk.. Ah.. Nggak enak nolak undangan.. Kasihan.. Udah beli arang segerobag..”, celetuknya lalu menarik tanganku mengikuti Mas Willy yang sudah melangkah menuju halaman belakang.

Di sana kulihat Mbak Ratih serta kedua mahasiswa itu pun sudah lebih dahulu ada di sana, malah Mbak ratih tampak cuma mengenakan bikini saja dan dililit sehelai kain pantai, namun payudaranya yang besar itu seakan tidak muat dalam bikini yang kecil itu, dan jelas kulihat mata kedua mahasiswa tersebut seperti tertarik oleh besi sembrani, dan.. eh.., ternyata suamiku juga ketularan.. Matanya tanpa malu-malu melahap pemandangan tersebut, aku sih tidak marah hanya agak iri..

Barbekyu yang dihidangkan sungguh sedap, dan minuman anggur yang menyertainya membuat suasana semakin santai dan perbincangan juga semakin ‘mengarah’. Kami semua lalu sepakat untuk berenang di kolam renang di bagian halaman belakang yang hampir berbatasan dengan pantai. Suasana agak gelap karena sinar lampu tidak mampu menjangkau kolam tersebut, namun sinar bulan masih cukup sebagai penerangan dan ketika aku hendak pamit untuk berganti pakaian renang, ternyata mereka semua dengan santainya melepas semua pakaian yang dikenakan dan masuk kolam dalam keadaan telanjang bulat. Sempat kulirik suamiku masih mencoba ‘mengincar’ dengan pandangannya ke payudara Mbak Ratih sebelum berendam di air kolam.

“Ayo..”, Mbak Ratih memanggilku karena melihatku masih tertegun. Karena suamiku juga sudah melepas pakaiannya maka apa boleh buat, aku pun melepas semua yang kukenakan lalu masuk kolam bergabung dengan yang lain.

Pada awalnya suasana masih agak kaku, aku meringkuk di sisi suamiku yang mendekapku, sementara Mbak Ratih juga berada di sebelah Mas Willy, namun kedua pemuda itu, dasar ngocol segera saja mencairkan suasana dan kami pun bercanda dengan ramai, bahkan terkadang saat berenang kami saling bertubrukan dan seringkali entah sengaja atau tidak, saat itu digunakan oleh mereka untuk mengelus payudaraku, bahkan entah siapa yang menyelam.. tiba-tiba aku menjerit kaget ketika ada jari yang ‘nyelonong’ menyentuh vaginaku.

Kondisi ini membuat kami semua semakin asyik bercengkarama dan tanpa terasa, tiba-tiba Yudi sudah berada di dekatku lalu memelukku dari belakang. Kurasakan kemaluannya tegang menyentuh bongkahan pantatku, sementara Mas Willy yang entah datang dari mana juga sudah berada di hadapanku lalu ikut memelukku. Tangannya tanpa ragu meremas payudaraku, dan aku yang sudah terhanyut dan sedikit mabuk oleh suasana, anggur dan lainnya juga ‘membalas’-nya dengan memegang kemaluan suami Mbak Ratih itu sementara ketika kulirik.. Wah.., ternyata suamiku juga sudah ‘nenen’ di payudara Mbak Ratih yang besar itu.

Memang sejak awal melihat Mbak Ratih aku sudah sering membayangkan bagaimana kalau seandainya suamiku bermain sex dengan wanita itu, dan bayangan itu bukannya membuatku cemburu tetapi malah membuatku terangsang, kini dengan melihatnya secara langsung birahiku menjadi semakin cepat naik. Mas Willy lalu berinisiatif mendorong kami ke pinggir lalu menaikkanku duduk di bibir kolam dan detik berikutnya, kepalanya sudah mendekam di antara pahaku sementara lidahnya mulai menjilati vaginaku sementara Yudi juga sudah naik ke tepi kolam lalu menghisap dan menjilati puting payudaraku. Tanganku menggapai-gapai mencari ‘pegangan’ dan ketika kutemukan kugenggam pegangan yang ternyata adalah kemaluan pemuda itu. Walau tidak terlalu besar tapi kemaluan Yudi sangat keras.

Aku lalu memposisikan diriku rebah dengan kedua kaki menjuntai ke dalam kolam. Mas Willy masih menjilatiku dengan asyiknya hingga memberiku kenikmatan yang amat sangat karena lidahnya sungguh pandai menjilat dan menyapu, terkadang bahkan memasuki liang vaginaku, sementara Yudi ‘kutuntun’ untuk berjongkok di atasku sehingga aku bisa dengan bebas menghisap dan menjilati bijinya.

Bahkan dengan nakalnya ia menggerakkan pantatnya sehingga anusnya terjilat olehku.. Ah.., aku tak peduli.., namun aku masih sempat melirik ke sebelah dan di sana ternyata ‘lebih parah’ lagi. Kulihat suamiku berdiri dengan kemaluannya di dalam mulut Mbak Ratih yang ‘menduduki’ Firman yang kemaluannya entah kapan sudah tertanam dalam vaginanya.

Crrot.., “Ahh.. Argh..”, Yudi yang tak tahan dengan hisapan dan jilatanku menumpahkan air maninya dalam mulutku yang karena posisi kepalaku tak memungkinkanku banyak bergerak membuatku harus menelan habis semua air mani anak muda itu.

Yudi tergolek ke sampingku dan kemudian Mas Willy naik di atas tubuhku yang kusambut dengan membuka kedua pahaku lebar-lebar dan bless.. Kemaluannya sudah memasuki vaginaku dengan tidak terlalu sulit karena selain ukurannya memang juga tidak terlalu besar, vaginaku sendiri juga sudah sangat basah dengan lendirku bercampur air liurnya..

Mas Willy menggerakkan pantatnya dengan teratur sementara bibirnya menyatu dengan bibirku tanpa merasa terganggu dengan bekas air mani Yudi, dan tidak lama..

“Aahh..”, crrot.., sampailah ia di puncak kenikmatan dengan mengejang dan menekankan kemaluannya sedalam mungkin di vaginaku. Aku memeluknya dan mencoba bergerak secepat mungkin untuk ‘menyusul’, namun kemaluannya keburu menyusut hingga.. Plop, terlepas dari vaginaku.

Aku tidak berkomentar namun agak kecewa karena belum orgasme. Sungguh.. bagi wanita yang pernah merasakannya, pasti tahu betapa tidak enaknya dalam kedaan ‘menggantung’ begitu. Mataku nanar melihat ke sebelah dan pada saat itu, kulihat suamiku juga sedang memperhatikan diriku, sementara Mbak Ratih dengan mulut yang masih menitikkan cairan putih di sudut bibirnya sedang bergerak dengan liarnya di atas Firman, dan hampir berbarengan dengan dengusan Firman, mereka saling memeluk melepaskan puncak kenikmatan.

Ketika aku bergerak duduk, suamiku sudah berada di sampingku.

“Kamu belum ya..” bisiknya mesra lalu ia mulai mencium bibirku.. Turun ke payudaraku dan terus ke bawah.

Aku berusaha mencegahnya karena tahu vaginaku masih penuh dengan air mani Mas Willy, namun tampaknya ia tidak peduli, turun ke kolam lalu berdiri di dalam air di antara kedua kakiku dan mulai menjilati vaginaku yang sesungguhnya masih basah kuyup itu.

Campur aduk perasaanku, antara merasa tidak enak pada suamiku, namun juga ada kenikmatan lain yang sukar dilukiskan ketika ia melakukan itu dan akhirnya rasa nikmat itu menang, aku bersikap rileks dan menerima gelombang kenikmatan yang datang dari jilatan, sapuan dan hisapan suamiku pada klitorisku. Jarang aku bisa orgasme hanya dengan dijilat, namun kali ini ledakan itu datang cukup hebat dan..

“Hh.. Sss..”, akhirnya aku menggapai kenikmatan yang tadi menggantung. Namun rupanya itu tak berlangsung lama karena rupanya menjilati vagina istrinya yang ‘bekas’ dipakai orang lain justru sangat menaikan birahi suamiku, karena ia lalu naik dari kolam dan lalu memasukkan kemaluan yang sudah sangat kukenal itu dan kami bersetubuh dengan sangat lembut, di bawah tatapan mata kawan-kawan yang lain.

“Balik Ma..” bisik suamiku, aku mengerti lalu ia melepaskan kemaluannya dari vaginaku, aku diposisikan seperti yang diinginkannya dan kami lalu bersetubuh secara doggy style, ah semakin dalam dan nikmat saja hunjaman kemaluan suamiku.

“Ss.. Ah..”, aku agak kaget ketika ada perasaan asing yang datang, ternyata Mbak Ratih ikut menyusupkan kepalanya di antara pahaku dan menjilati kemaluan suamiku setiap tertarik dan lidahnya terkadang menyapu juga klitorisku.. Uh.., sungguh luar biasa.

Jilatan Mbak Ratih makin tak beraturan karena rupanya ia juga sedang digarap oleh Mas willy yang sudah berdiri lagi dan memasukkan kemaluannya, sementara ketika kulihat kemaluan Firman yang juga sudah ikut bangun, aku memberinya isyarat dan ia menghampiriku dengan menyodorkan kemaluannya yang jauh lebih besar daripada kemaluan Mas Willy maupun Yudi ke mulutku.

Lengkaplah sudah malam itu, kami melanjutkan permainan itu di bungalow Yudi dan Firman, karena di bungalow kami ada anak-anak yang sedang tidur hingga kami kuatir mereka akan terbangun menyaksikan orang tuanya sedang berpesta.

Malam itu masih 2 kali Firman memuntahkan air maninya di mulutku dan Mas Willy juga sekali, sementara Mbak Ratih tampak kelelahan dan berhenti terlebih dahulu dan meringkuk di atas kursi ketiduran.

Hingga saat ini aku masih menolak ketika ada yang mencoba memasukkan kemaluannya ke anusku. Belum.. aku belum siap, kalau hanya dijilat dan ditusuk pakai lidah aku masih mau, enak.. Tapi kalau lebih dari itu aku masih takut.

Keesokan harinya anak-anak memuaskan hasratnya bermain, sebelum sorenya kami berpisah dan kembali ke kehidupan rutin kami.

Kini sudah lebih dari satu setengah tahun sejak aku dipijat yang berakhir pada kehidupan seks yang penuh hasrat, penuh kenikmatan, penuh tantangan, dan baru kali ini aku menyadari bahwa ternyata kehidupan seks bisa begitu variatif tanpa harus mengorbankan pernikahan.

Aku membuat kesepakatan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mau berhubungan seks dengan orang lain tanpa didampingi suamiku, walau aku membebaskan dia untuk melakukannya kalau kebetulan ingin dengan wanita lain, asal dia menceritakan pengalamannya. Hal ini berawal pada permintaan beberapa teman suamiku yang datang dan berunding dengan kami dan meminta tolong agar Mas Ridwan suamiku mau ‘gantian’ berperan sebagai pemijat untuk istri mereka, dan hal itu tentunya susah ditolak kan? Namun hingga saat ini belum pernah suamiku bermain dengan wanita lain berduaan saja.

“Ngapain.., nggak seru..”, katanya.
“Untuk kita kan permainan ini hanya sekedar refreshing.. Fun.. Dan rekreasi..”, katanya lagi, menjelaskan ketika ia kutanya mengapa menolak beberapa ‘tawaran’ yang datang.
“Bagiku.. Melihat Mama.. bermain seks hingga puas jauh lebih menyenangkan dan memuaskan ketimbang Mas yang main..”, ia menjawab santai menjelaskan pendapatnya.

Beruntungkah aku? Atau semua suami memang seperti itu..?

Dari semua pengalaman yang telah kujalani, ukuran kemaluan laki-laki paling besar yang pernah kurasakan adalah milik Mas Joko, seorang pengusaha bertubuh agak tinggi, ramping, namun ternyata senjatanya berukuran luar biasa.

Panjangnya hampir mencapai 24 cm, dengan diameter lingkaran yang sangat besar, sangat keras, dan saat menyemburkan air mani.. Banyaknya luar biasa. Selama ini aku selalu membanggakan diri bahwa kalau ada yang ‘keluar’ di mulutku, akan selalu kutelan habis tak bersisa. Namun kali itu ternyata aku sampai tersedak karena saking banyak dan kerasnya semprotan yang kuterima, padahal hanya ujung kepalanya yang berada di mulutku karena hampir tidak muat.

Saat masuk ke vaginaku, aku merasa seperti diperawani kembali, dan semburan air maninya terasa langsung masuk ke dalam rahimku. Namun terus terang, aku tidak mau lagi melakukannya. Karena ukuran yang terlalu besar walau terlihat sensasional, namun bagiku tidak memberi kenikmatan yang maksimal. Sebaliknya ukuran terlalu kecil juga kurang menjanjikan, yah.. 16-18 cm, dengan diameter lingkaran yang cukup dan bentuk yang bagus sangat pas bagiku, karena akan terasa nikmat baik di mulut maupun di vagina.

Setelah ‘melayani’ Mas Joko dan suamiku berbarengan, hampir selama 5 hari kemudian aku tidak bisa berhubungan sex karena rasanya panas dan pedas sekali. Kalau kata orang, kemaluan yang sangat besar bisa membuat orgasme seketika, maka menurutku itu bohong karena aku tidak mengalami itu. Aku bahkan lebih banyak kekhawatiran saat kemaluan sebesar lengan bayi itu memasuki vaginaku. Sebaliknya jangan dikira juga kalau kemaluan dengan ukuran kecil tidak bisa menyemburkan air mani yang banyak. Aku pernah mengalami lho, ukurannya sih kecil dan tidak menjanjikan, namun ternyata tumpahan air maninya bisa banyak sekali.

dalam satu kali permainan, jumlah pasangan main terbanyak yang pernah kualami adalah bermain dengan 5 orang laki-laki sekaligus, termasuk dengan suami saya tentunya, namun juga dari pengalaman, aku tidak lagi mau melakukannya karena ternyata sangat melelahkan, hingga akhirnya kenikmatannya justru jadi hilang, idealnya adalah 2 maksimal 3 laki-laki dalam satu kesempatan.
Suamiku malah saat ini malah sangat menyayangiku………………..
Karena aku mampu memenuhi hasrat seksualnya yang aneh..aneh….sekaligus akupun betul betul menikmatinya
Karena memang harus diakui…….main dengan lebih dari satu lelaki sungguh suatu fenomena seksual yang dapat
Membuat kita melayang layang kepuncak kenikmatan yang tiada taranya………………………

Tulisan ini dipublikasikan di N. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s