Anakku Iparku

This is The Story. Saat itu aku, seorang wanita berumur 24 tahun, baru saja melepas masa lajangku dalam mahligai pernikahan bersama seorang pria pujaan hatiku dan amat kucintai. Mas Hadi namanya, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta . Kebahagiaan selalu menghias hari-hari kami meskipun kami masih menumpang di rumah ayah Mas hadi, seorang duda mantan lurah berumur 65 tahun dan sepasang kakinya telah lumpuh karena penyakit darah tinggi. Selama ini mas Hadi lah yang merawat ayah mertuaku karena anak-anaknya yang lain hidup di perantauan. Mulai dari memandikan, mengantar berobat dan lain-lain. Ayah mertua menolak dirawat pembantu yang sempat di bawa mas Hadi dengan alasan lebih comfort jika dirawat anak sendiri. Untungnya mas Hadi adalah tipe anak berbakti dimana hal itu pula yang semakin menambahkan kekagumanku padanya. Sayangnya kebahagiaan kami terasa belum lengkap karena kami belum dikaruniai anak.

Sudah hampir 2 tahun kami berupaya dengan berbagai macam cara untuk dapat menghasilkan keturunan. Mulai dari mengikuti saran tetangga, minum ramuan tradisional, orang pintar, dukun, sampai pengobatan medis modern. Namun sejauh ini belum mendapatkan kemajuan berarti, sampai suatu ketika dokter langgananku memanggilku khusus aku sendiri yang harus datang. Bagaikan di sambar petir dan dadaku di timpa gunung ketika pak dokter menyampaikan bahwa suamiku tercinta divonis tidak akan mampu menghasilkan keturunan alias mandul, dan mengharapkan aku sendiri yang harus menyampaikan kenyataan itu padanya. Hatiku miris dan bingung, tak mungkin hal itu kulakukan, aku begitu amat mencintai suamiku dan hal itu pasti akan sangat melukainya, bagaimana jika dia depresi, bagaimana jika ia meninggalkanku, segala macam kemungkinan buruk melintas dalam pikiranku.Namun selama berbulan-bulan berikutnya aku mampu menjaga sikapku di hadapan suami hingga tidak menimbulkan kecurigaan. Apakah aku harus berselingkuh?bagaimana jika rupa anakku nanti tidak sama dengan suamiku? Sampai suatu hari, ditengah keputus asaanku timbul ide gila yang menurutku saat itu adalah solusi terbaik.

Malam itu, usai kami berhubungan intim dan melihat suamiku terlelap, aku beranjak dari tempat tidur dan perlahan-lahan keluar dari kamar tidur menuju satu tempat : kamar ayah mertuaku. Perlahan pintu kamar ayah kubuka dan di temaram cahaya kulihat ayah mertua tengah tertidur pulas dengan suara mendengkur.Dengan mengendap aku mendekati ranjang ayah yang saat itu,seperti biasanya memakai oblong dan sarung. Perlahan tanganku menyingkap sarung ayah sampai kepangkal paha sehingga dengan jelas terlihat kemaluannya yang terkulai layu namun cukup besar. Dengan lembut tanganku mengusap-usapnya dan kini mulai bereaksi degna semakin memanjang, agak sedikit terkejut bathinku menyaksikan ternyata penis mertuaku lebih besar dari milik suamiku. Suara dengkuran mertuaku berhenti dan kini hanya tarikan nafas tenang yang terdengar meskipun aku yakin ia masih tertidur. Tanganku masih mengelus-elus batang kemaluannya tetapi belum menegang sempurna, hingga aku putuskan untuk menggunakan mulutku untuk merangsangnya seperti adegan film bf yang pernah kusaksikan. Kepalaku segera menunduk, kucium aroma khas kelelakian ayah mertuaku, lalu lidahku mulai menjilatinya hingga daging panjang itu berkilat-kilat tertimpa cahaya redup lampu kamar. Kemudian , hap…., separuh batang kontol itu tenggelam dalam kuluman mulutku sambil tanganku mengocok-ngocoknya lembut. Nafas mertuaku kini mendengus-dengus dan mulutnya menceracau, agaknya ia menggigau, pikirku. Aku terus mengulum,menghisap dan mengunyah lembut alat kejantanan mertuaku hingga kurasakan sudah amat keras tanda ereksi yang sempurna. Inilah saatnya, pikirku, namun tiba-tiba ayah mertuaku terbangun dan dengan suara parau berkata ” Diah, apa yang kamu lakukan nak?aku ini ayah mertuamu bagaimana jika….!tanganku segera membekap mulut ayah mertuaku, dengan terisak aku berkata..”ayah,mas Hadi sudah divonis mandul, aku tidak ingin memberitahukannya, aku kasihan mas Hadi, dan aku mengharapkan bantuan ayah dalam hal ini…”kepalaku terkulai di dada ayah mertuaku namun satu tanganku masih menggenggam dan mengocok batang penis ayah mertua. “….ahhh, Diah…tapi…ssshh…sudahlah, lakukanlah…tapi untuk sekali dan terakhir…ayah juga sudah lama tak merasakan tubuh wanita sejak ibunya Hadi meninggal”, ujar mertuaku sambil membelai rambutku lembut. “Terima kasih…ayah” kataku seraya beranjak naik ke atas tempat tidur ayah mertua lalu merangkak di atas tubuhnya. Dengan berlutut tepat di atas selangkangannya aku loloskan gauun tidurku di mana aku tidak menggunakan sesuatupun di baliknya. Mata ayah mertua membelalak kagum dan penuh hasrat melihat kemolekan tubuh telanjangku yang dibalut kulit kuning langsat itu, matanya terpaku pada sepasang payudara ranum milikku yang cukup besar. Manakala aku sedikit menunduk di atas dadanya untuk memudahkan penetrasi rudalnya kedalam vaginaku tangannya langsung menangkap buah dadaku dan meremas-remasnya dengan gemas sehingga aku merasa sedikit kesakitan,”…pelan..pelan dong yah, sakit”, ujarku lirih. Sejujurnya aku sama sekali tidak begitu nafsu melihat tubuh mertuaku yang sudah banyak keriput dan sedikit timbunan lemak di sana sini, apalagi jika mengingat suamiku, maka kucoba membayangkan aku tengah bersetubuh dengan suamiku sendiri. Ayah mertua kebetulan juga sangat mirip dengan mas Hadi.

Penetrasi itu gagal berkali-kali, apakah karena kemaluan ayah yang terlalu besar atau karena aku yang belum terangsang sehingga memekku masih kering?!. Entahlah, karena kulakukan ini bukan untuk bersenang-senang tapi untuk membahagiakan mas Hadi dengan memberikan keturunan meski dengan cara yang salah.Kuludahi batang kontol ayah namun belum mampu juga menembus vaginaku. Kemudian ku lepas tangan ayah yang tengah merermas-remas payudaraku lalu aku merangkak ke depan kemudian berlutut tepat di atas wajah mertuaku, dengan perlahan kuturunkan selangkanganku sehingga menyentuh hidung dan mulut mertuaku..”ayah..jilat”, pintaku pada ayah mertua. Dengan penuh nafsu lidah mertuaku mengusap-ngusap menjilati mount veneris, labia mayora dan minora serta clitorisku. Tangannya pun ikut membantu dengan menekan dan menggaruk-garuk pelan klentitku, sesekali ia hujamkan jarinya ke lubang senggamaku, sementara tangannya yang lain menekan-nekan mencoba menembus lubang anusku. Saat itu pula hasratku berdesir mengaliri setiap pembuluh darahku, tanpa terasa aku mulai mendesah-desah dan kurasakan vaginaku mulai membengkak dan memproduksi cairan pelicin yang dengan rakus dihisap-hisap oleh mertuaku. ” Ayah,..cukup”, ujarku dengan suara bergetar. Lalu beringsut mundur ke posisi semula. Ku genggam batang kemaluan ayahku untuk kuarahkan tepat di mulut liang senggamaku lalu perlahan tapi pasti tongkat daging keras itu tertelan dalam vaginaku,”sshhh…ayaahhh”, aku mendesah merasakan rangsangan yang amat hebat di tengah-tengah antara dua pangkal pahaku.Pantatku segera mengayun ke atas-bawah, ke samping kanan-kiri. “Ohhhhss…Diah mantuku..hhhh”, desah mertuaku yang tangannya dengan trampil meremas-remas payudaraku yang montok. Sesekali kudekatkan di wajahnya sehingga ia bisa menghisap putingnya dengan rakus, menyebabkanku menggerinyit menahan sakit karena ayah nyaris menggigitnya. “ayahhh…kalo mau keluar….. bilang ya? kataku sambil terus berkelojotan di atas tubuhnya.Dan semenit kemudian ayah memberikan isyarat bahwa ia akan orgasme,”diah..aku sudah tidak tahan..uuhhhg”, erang mertua nyaris berteriak jika saja tak keburu kubekap mulutnya. Dengan segera tubuhku rebah di atas dadanya, kurangkul erat lalu dengan sekuat tenaga aku berguling membawa tubuh ayah mertuaku yang telah lumpuh itu sehingga kini posisi tubuhnya berada di atas tubuhku. Dengan segera kurangkul pantatnya dengan kedua kakiku, menariknya kebawah sehingga kurasakan ujung kontolnya menyentuh mulut rahimku dan sedetik kemudian tubuh mertuaku menegang seiring dengan semprotan-semprotan kuat cairan hangat dalam rahimku..crot…crot…crot…crot, banyak sekali sampai semenit semprotan sperma itu dengan deras keluar dari ujung penis mertuaku. Maklum hampir 10 tahun tidak pernah berhubungan sex dengan lawan jenis. Lama tubuhnya terkulai lemas di atas tubuhku yang basah kuyub oleh keringat. Dengan pelan kudorong tubuh mertua kesamping. Nafasnya masih ngos-ngosan dan matanya menerawang. Aku sendiri cukup lama berbaring telentang di sampingnya, kakiku kutumpangkan di atas sandaran ranjang, berharap spermanya tidak tumpah keluar dan berharap pembuahan segera terjadi. 1 jam kemudian aku bangkit di mana mertuaku sudah kembali mendengkur kelelahan namun dengan wajah bahagia. Sarungnya masih tersingkap dan kemaluanya masih berselemotan sperma. Kurapikan pakaianya dan segera kupakai kembali gaun tidurku, kukecup kening ayah mertuaku lalu berjalan meninggalkan kamarnya dengan salah satu tangan mendekap memekku takut kalau cairan sperma ayah mertuaku segera tumpah. Kemudian kembali aku menyelinap ke balik selimut di sisi suamiku yang masih terbawa mimpi.

Esoknya hari berjalan seperti biasa. Hanya ada sedikit perubahan pada sikap mertuaku yang tadinya cenderung murung kini agak lebih rileks. Walau terkadang tatapan matanya kepada suamiku menyiratkan suatu beban tapi its oke. Sebagai manusia normal hal itu ku anggap wajar, manusia mana sih yang tidak merasa berdosa karena menyelingkuhi menantunya kendati dalam masalah ini akulah yang memulai. Tetapi ayah memang memegang janji, bahwa peristiwa malam itu adalah pertama dan terakhir, meskipun matanya kadang memandang nakal kepadaku. Demikian pula halnya denganku yang hanya menginginkan timbulnya kehidupan di dalam rahimku. Namun aku harus menghadapi kenyataan pahit manakala harapanku tidak tercapai. 2 minggu kemudian aku mengalami haid. Aku sedemikian panik hingga nyaris depresi meskipun aku mampu menyembunyikannya di depan suamiku. Mertua ku pun tidak mengetahui hal ini. Sampai suatu ketika menjelang suamiku berangkat ke kantornya aku berkata, “mas, ayahmu kan berarti ayahku juga, bagaimana bila besok pagi aku saja yang mandikan ayah, mas sorenya, aku kasihan melihat mas pulang malam, bangun pagi-pagi mempersiapkan kerjaan harus dibebani pula ngurusi ayah”.”Diah, itukan memang sudah kewajibanku sebagai anak, emangnya kamu gak risih dan malu?tanya suamiku. “Ngga mas, kan tadi sudah kubilang kalau…” sssst..!, desis suamiku memotong ucapanku,”oke kalau memang itu maumu nanti aku bilang sama ayah, kamu memang istri ideal, sayang suami dan sayang mertua, cup”katanya seraya mengecup pipiku lalu segera pamit.

Keesokan harinya ketika suamiku sudah berangkat, kudekati ayah yang sedang membaca koran di atas kursi rodanya di halaman belakang rumah.” Ayah,…waktunya mandi”, ujarku lirih seraya meletakan koran ayah dan mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi yang cukup besar dan telah disiapkan kursi khusus untuk mandi ayah. Setibanya di sana aku segera memapah dan mendudukan ayah lalu melepaskan kaus oblong dan sarungnya sehingga kini telanjang. Dengan rikuh ia memandangiku, sementara aku mulai menyiraminya dan menyabuninya. Sengaja agak lama kusabuni kemaluannya sehingga lambat laun berdiri tegang, tiba-tiba ayah mertua memegang tanganku yang masih mengusap-usap alat kejantanannya,”ada apa nduk?”, tanyanya lembut. “Ayah,…hampir dua minggu yang lalu aku mens,…dengan kata lain…benih ayah tidak berhasil membuatku hamil”, jawabku dengan suara bergetar nyaris terisak. Lama ayah mertuaku tercenung sampai akhirnya ia berkata,”baiklah, mungkin perlu kesempatan kedua, tapi Diah,…setelah ini ayah tidak sanggup lagi, orangtua yang tinggal matinya seperti ayah ini mestinya tidak lagi berbuat dosa, kamu mengerti kan?” katanya lembut. Aku mengangguk. Lalu kembali melanjutkan memandikan ayah mertuaku dan setelah usai segera melap tubuhnya dengan handuk. Aku berjalan mendekati pintu kamar mandi dimana kapstok tergantung, lalu mulai melepaskan pakaianku satu per satu di hadapan mertuaku yang menatapku dengan tajamnya. Kerongkongannya naik turun seiring dengusan nafasnya yang terbakar nafsu. Kudekati tubuhnya lalu dengan berlutut kutundukan kepalaku di pangkuannya dan sekali lagi batang kontol mertuaku kembali berada dalam kekuasaan mulutku. Haru aroma sabun membuatku semakin bergairah untuk menjilat, mengulum dan menghisap-hisap penis tegang mertuaku sampai kuarasakan cairan asin mulai keluar dari ujungnya.Mertuaku dengan mengerang-erang menggerumusi rambutku dan meremas-remas payu daraku.”Diahh…..cepat lakukan, oohhh”, perintahnya sambil mengerang, aku berdiri,”tapi ayahh, aku belum basah”, jawabku sambil mendekati tubuhnya sehingga ujung payudaraku menyentuh wajahnya.Mulutnya segera menelan puting buah dadaku lalu mengunyah-ngunyahnya dengan buas sehingga kembali aku meringis menahan sedikit rasa sakit dan geli.Tangannya menggaruk-garuk klitorisku sementara tangannya yang lain dari belakang pantatku menerobos lubang memekku dan menekan-nekan lubang duburku. Tubuhku bergetar tanda hawa nafsu telah bergejolak dalam setiap simpul urat syarafku kendati wajah suamiku lah yang selalu kubayangkan.Tiba-tiba tangan mertuaku melepaskan eksplorasinya dari area sekitar selangkanganku,selintas kulirik tangan itu menggapai potongan sabun yang ada di dekatnya, mengusap-usapnya hingga timbul busa, dan,”ahhhh…ayahhh”, aku terkejut menahan sakit dan nikmat sekaligus manakala satu jari ayah mertua berhasil tertanam dalam lubang anusku sementara satu jari lainnya menghujam lubang kenikmatanku. Dengan segera ia memasuk-keluarkan jemarinya di dalam dua rongga tubuhku sekaligus, dan yang aku rasakan adalah kenikmatan luar biasa. Vaginaku segera menghasilkan cairan pelumas yang cukup banyak sehingga gerakan jari-jari mertuaku menimbulkan suara berkecipak.dan sepuluh detik kemudian ledakan-ledakan nikmat mendera lubang senggamaku.. “ayahhh…auh..auhhh..”teriakku seiring orgasme dahsyat di dalam organ kewanitaanku. Semburan cairan ejakulasiku membasahi pangkuan dan kaki mertua ku yang dengan giat tangannya terus beraktivitas menusuk, menggelitik,dan berputar-putar di lubang memek dan anusku sampai aku kembali mengerang, merintih dalam kerasukan birahi.”ayo, Diah…tunggu apa lagi?”, tanya mertuaku. Aku segera membelakangi mertua ku mencoba duduk di atas pangkuan…dan…jleb, batang kontol besar itu sukses tenggelam dalam cengkraman liang vaginaku, dan aku mulai bergerak maju mundur di mana mertuaku membantu dengan merangkul pinggangku menarik dan mendorong. Kali ini aku ingin menikmatinya usai kurasakan orgasme paling sensasional tadi.Keringat membasahi kening, punggung, dan dadaku. Mertuakupun kini berkeringat padahal baru saja dimandikan.Beberapa menit kemudian aku bangkit merubah posisi, kini dengan berhadapan kembali aku duduk di pangkuan ayah mertuaku yang kedua kakinya lumpuh, tapi tidak kaki tengahnya. Dengan segera payudaraku dilahap oleh mulut mertuaku setelah sebelumnya lidahnya menjilati leleran keringatku.”Diaahhh,…ayah mau keluaarrrr…”, erangnya denga parau.”Ayo…ayaahhh, bentar lagi yahh, Diah..juga mau keluarrr,..ssshh, ayahhhh, keluarin sekarang,…aahhhhh”, teriakanku seiring datangnya orgasmeku yang kedua bersamaan dengan muncratnya lahar sperma ayah di dalam vaginaku. Lama sensasi nikmat itu kami rasakan. Hingga akhirnya kulepaskan rangkulanku dari tubuh ayah. Kemudian aku rebah di atas lantai kamar mandi dengan kaki tertekuk sambil mengatur nafas.Ayah mertua mengawasiku dengan wajah puas. 2 jam kemudian aku bangkit berdiri, segera cairan sperma ayah mertua mengalir keluar dari mulut vaginaku, membanjiri paha dan terus ke betisku hingga menggenang di lantai, banyak sekali, pantas punya anak sampai 7.Aku segera membilasnya, lalu berjongkok, kencing, tepat di hadapan dan di bawah tatapan tajam ayah mertuaku yang sekilas kuperhatikan kontolnya kembali berdiri . Kami lalu mandi berdua dan kuantar ayah kekamarnya untuk beristirahat.

3 Minggu kemudian aku dinyatakan positif hamil. Dan suamiku menyambut kabar gembira ini dengan amat bahagia. Demikian juga ayah mertuaku yang sebenarnya punya andil besar atas kehamilanku.Sebagai ucapan terimakasihku pada ayah, sesekali aku puaskan dirinya secara sexual sampai usia kandunganku 5 bulan ketika ia memutuskan untuk tidak lagi melakukannya lagi . Ketika anakku berumur 1 tahun ia meninggal dunia. Anakku mirip sekali dengan suamiku, tentu saja, karena tak lain ia adalah adiknya sendiri. Namun kini aku kembali menemui dilema, suamiku menginginkan adik untuk anakku.

Tulisan ini dipublikasikan di A. Tandai permalink.

One response to “Anakku Iparku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s