Terlanjur Basah Ya Sudah

Namaku Jaka, umur 25 di tahun 2001 ini. Setelah lulus dari sebuah PT di kota Yogyakarta, aku mencoba untuk melanjutkan hidup di kota ini juga. Hingga akhirnya aku diterima di sebuah LSM, meskipun baru pada tingkat magang. Dengan alasan, saat aku kuliah dulu, aku pernah membantu sebuah proyek yang sedang ditangani oleh LSM lain. Dan kisah ini terjadi saat aku terlibat dalam proyek tersebut.

Terus terang, sebetulnya dunia yang selama ini kugeluti, sangat jauh dari dunia sex. Dan kalau pun tahu, itu hanya sebatas bacaan-bacaan semacam Nick Carter. Namun, setelah aku mengenal dunia cyber dan mendapatkan situs 17tahun.com dari temanku ini, rasanya aku mulai tahu tentang dunia yang satu ini. Dan mungkin bisa experience sharing, sekaligus menyalurkan hobiku dalam hal tulis-menulis.

Kisah ini bermula saat kepulanganku dari luar kota setelah melakukan hunting dan survey untuk proyek tersebut. Saat itu, jam di tanganku menunjukkan pukul 10.00 malam. Setelah bus jurusan Yogya-Surabaya yang kunaiki sampai di pertigaan Janti, aku bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang pun turut berdiri, berjajar di belakangku. Hingga akhirnya, aku dan para penumpang lainnya sudah turun, bus melaju melanjutkan perjalanannya menuju terminal.

Setelah sesaat melepas lelah sambil nongkrong di sebuah warung pinggir jalan, aku pun berniat untuk segera pulang lalu istirahat. Saat hendak membayar minum, aku rogoh saku belakangku. Dan aku pun sangat terkejut ketika kudapati, belakang celanaku ternyata robek.
“Sialan..,” makiku.
“Kenapa, Dik..?” tanya penjual minuman itu.
Aku sendiri tidak dapat berkata-kata apa-apa. Karena bagaiamanapun juga, toh aku juga harus tetap membayar minuman yang telah kuhabiskan. Dan untung saja, setelah kurogoh seluruh kantong yang ada di baju dan celanaku, aku menemukan sedikit uang yang cukup untuk sekedar membayar minuman tersebut. Dan akhirnya, aku beranjak meninggalkan warung itu dengan langkah gontai.

“Yaa.. terpaksa pulang jalan kaki nih..” umpatku.
Namun tidak berapa jauh aku melangkah, seorang wanita menegurku dari arah belakang.
“Maaf, Dik..”
Meskipun dengan sedikit malas, aku berusaha untuk menanggapi teguran tersebut.
“Ada apa, Mbak..?” tanyaku.
“Adik tahu jalan ini (dia menyebutkan salah satu jalan di kota ini)..?” tanyanya dengan nafas yang memburu terkesan seperti tergesa-gesa.

Dan belum sempat aku menjawabnya, ia sudah menyambung dengan kata-katanya.
“Kalo tahu, tolong dong, saya dianter. Bisa kan..? Please..!”
Namun dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, semula aku menolaknya. Dalam pikiranku, aku cuman mengeluh, sialan nih perempuan, tidak tahu orang lagi suntuk! Namun lama-kelamaan, akhirnya aku merasa iba juga melihatnya, apalagi dia sempat menawarkan imbalan berapa pun yang aku minta asalkan aku mau mengantarkannya. Hingga akhirnya, aku pun bersedia mengantarnya. Dan tentu saja dengan syarat, aku minta ongkos taksi untuk pulang ke kost. Itu saja. Dan ia pun setuju.

Singkat cerita, kami pun melaju menuju alamt tersebut dengan sebuah taksi. Di dalam taksi pun, kami mulai saling memperkenalkan diri. Dan ternyata, kami sama-sama satu bus. Hingga akhirnya aku berhasil memancingnya untuk bercerita tentang dirinya. Lalu ia pun bercerita tentang kisah pahit dalam hidupnya. Seolah aku terhanyut dengan cerita-cerita yang mengharukan yang ia tuturkan.

Vina, nama perempuan itu. Usianya 30 tahun. Wajahnya cukup cantik. Terlebih lagi, dengan kaca mata yang ia kenakan, semakin menambah anggun kecantikannya. Ia adalah janda yang tidak mempunyai anak. Suaminya pergi dari rumah karena selingkuh dengan seorang karyawan yang kost di rumahnya. Sedangkan di kota ini, ia akan memulai hidup baru bersama kakak perempuannya.

Di tengah-tengah cerita, sesekali ia mengusap air mata yang keluar dari pipinya saat bercerita. Atau mencoba menyembunyikan isakan tangisnya dengan menyandarkan kepalanya di atas pudakku. Mungkin, sudah menjadi naluri laki-laki untuk menjadi pengayom bagi seorang wanita. Dan itu juga yang coba kulakukan untuk mencoba menenangkan Mbak Vina. Dengan sedikit gemetar, aku mencoba untuk merangkul pundaknya. Kulontarkan kata-kata yang kupikir dapat meredam kesedihannya.

Tapi entah setan dari mana, tiba-tiba aku teringat akan cerita-cerita panas yang pernah kubaca, ataupun film-film dari VCD yang pernah kutonton. Aku sendiri mencoba untuk mengusir khayalan-khayalan itu. Namun, sentuhan-sentuhan yang terjadi di antara kami, meskipun itu tidak di sengaja, justru semakin memancing hasrat kelaki-lakianku. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan jika penisku mulai menegang. Aku mulai salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan keringat dingin membasahai keningku. Namun, untung saja kejadian ini tidak berlangsung lama. Karena taksi yang membawa kami telah berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar.

“Sudah sampai, Mas..” kata supir taksi itu.
Lalu Mbak Vina pun membayar ongkos dan segera mengajakku menuju rumah itu. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, seorang wanita yang mirip dengan Mbak Vina, tapi lebih tua sedikit, membuka pintu dan langsung berteriak sambil memeluk Mbak Vina. Mbak Vina pun menyambut pelukan itu dengan tangisan yang meledak. Hening sesaat.

“Oo.. ini toh Mbak Rani, kakaknya Mbak Vina..” Batinku.
Lumayan juga. Kulitnya putih bersih. Dan kondisiku yang masih agak terangsang ini, semakin menjadi-jadi ketika kulihat Mbak Rani yang hanya menggunakan baju tidur, dengan belahan dada yang cukup lebar, sehingga belahan buah dada Mbak Rani dapat terlihat jelas. Aku sempat terpana juga melihat pemandangan seperti itu. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh teguran Mbak Rani untuk mengajak kami masuk.

Akhirnya, setelah sedikit berbasa-basi, aku pun dipersilakan istirahat di ruang tidur tamu. Dan malam itu pun, akhirnya aku terpaksa di tidur di rumah Mbak Rani. Namun, meskipun tubuhku ini sangat lelah, aku heran, kenapa aku tidak dapat memejamkan mataku. Justru bayangan Mbak Vina dan Mbak Rani yang terus mengganggu pikiranku. Aku coba segala cara agar mata ini dapat terpejam, meski akhirnya tidak dapat juga. Lalu kuputuskan untuk melihat-lihat sekeliling kamar hinga aku melihat ada sebuah TV dan VCD player. Lalu kubuka beberapa laci yang ada, dan kutemukan beberapa keping CD. Maka kuputuskan untuk memutar CD tersebut sebagai penghantar tidurku.

Namun, justru aku tak dapat memejamkan mataku saat melihat adegan-adegan yang terpampang di film tersebut. Karena dari 5 CD yang ada, empat di antaranya film BF semua.
“Nggak apalah.. dari pada nggak ada tontonan dan nggak bisa tidur..” batinku.
Sambil tiduran di ranjang, aku pun menikmati film-film BF tersebut sendirian. Khayalanku pun semakin liar menerawang. Dan penisku pun mulai mengeras. Suara-suara desahan di TV semakin membuat nafsuku bergejolak.

Entah sadar atau tidak, perlahan tanganku mulai membelai-belai penisku sendiri. Perlahan celana panjang kuturunkan. Semula hanya sebatas lutut, meski akhirnya, aku tanggalkan seluruhnya.
“Oohh.. mmhh..” desahku mengikuti irama permainan yang ada di layar TV.
Semakin lama, semakin cepat pula gerakan tanganku mengocok penisku sendiri. Gerakan tubuhku semakin tak beraturan. Sesekali kakiku mengejang dengan pantat yang sedikit terangkat. Hingga akhirnya, “Aaggrkkh..aarrghh..” jeritku dengan suara tertahan.
Dan bersamaan itu pula meledaklah larva berwarna putih kental dari ujung kemaluanku. Entah berapa kali semprotan yang keluar, aku tak sempat menghitungnya. Aku pun terkulai lemas.

Keringat membasahi tubuhku. Aku limbung sambil masih berusaha menikmati sisa-sisa keletihan dalam kenikmatan itu. Dan entah berapa kali aku beronani di malam itu, aku tak ingat lagi. Karena, 4 CD yang ada kuputar semuanya non stop. Sampai aku tertidur dengan hanya kaos pendek yang melekat di tubuhku. Sementara tubuh bagian bawahku masih tidak mengenakan penutup samasekali.

Belum lama mataku terpejam, aku dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka.
“Eh.. maaf Dik. Aku pikir Dik Jaka udah tidur..” kata Mbak Rani.
Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Aku segera meraih celanaku yang tergeletak di pinggir ranjang. Meski tidak sempat mengenakannya, tapi cukup untuk sekedar menutupi bagian bawah tubuhku, terutama penisku.
“A.. ada appa.. Mbak..?” tanyaku dengan nada terpatah-patah karena malu bercampur grogi.
“Sorry, Dik. Aku mau ambil pakaian tidur di lemari itu. Kebetulan, pakaian yang ada di kamar Mbak, belum di cuci..” jawabnya.

Lalu Mbak Rani pun menghampiri lemari di sisi kanan ranjang tempat aku berbaring. Saat ia menoleh ke arah TV yang ternyata masih menyala, Mbak Rani berpaling ke arahku sambil tersenyum. Aku pun terpaksa membalasnya dengan tersenyum juga. Meski pun dengan agak tertahan. Aku segera meraih remote yang ada di sebelahku, lalu segera mematikannya.
“Kok dimatikan, Dik. Nggak pa-pa kok. Kalo belum selesai, dilanjutin aja. Tanggung kan..?” kata Mbak Rani sambil membelakangiku karena sedang mencari pakaian yang ia cari.
“Nggak ah, Mbak..” sahutku, “Lagian juga udah ngantuk nih.”

Selesai mengambil pakaiannya, Mbak Rani duduk di sisi ranjang. Ia mengambil remote yang ada di tanganku dan kembali menyalakan TV.
“Nggak usah malu-malu. Santai aja. Apa perlu Mbak temenin biar nggak ngantuk..? Nonton film kaya gini ini, enaknya kan nggak cuman tiduran. Iya nggak Dik..?” kata Mbak Rani sambil melirik bagian selangkanganku.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Dan selanjutnya, kami berdua terdiam. Hanya suara erangan dan desahan dari layar TV yang ada di kamar itu. Aku sendiri tidak dapat menikmati permainan yang sedang berlangsung di film itu. Meskipun kuakui, penisku mulai kurasakan kembali mengeras, namun aku justru salah tingkah sendiri. Sedangkan Mbak Rani, justru kulihat sangat menikmatinya.

“Mbak Vina, mana Mbak..?” tanyaku memecah keheningan dan sekedar untuk menghilangkan gemetarku.
Mbak Rani menoleh ke arahku dengan seungging senyum di bibir tipisnya. Dengan perlahan ia mendekatiku. Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku.
“Kan ada Mbak Rani di sini. Kasihan Mbak Vina, kelihatannya capek. Biarin aja dia istirahat,” kata Mbak Rani sambil menyentuh kulit pahaku dan mengelus-elus pelan.

Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku. Dan sebelum aku menjelaskan maksud pertanyaanku, tangan kanan mungil Mbak Rani sudah menggenggam kemaluanku. Aku sedikit tersentak terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Terlebih lagi saat tangannya perlahan mengocok penisku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa saat kesadaranku melayang entah kemana. Ketika tangan kiri Mbak Rani mendorong dadaku, aku perlahan merebah di atas ranjang. Namun, tiba-tiba kesadaranku muncul dan segera menarik tangan kanan Mbak Rani yang sedang membelai penisku. Dan aku segera bergeser ke samping saat tubuh Mbak Rani hendak menindih tubuhku.

“Jangan, Mbak.. ini tidak boleh..!” aku mencoba mengingatkan Mbak Rani.
“Pleassee.. Dik.. tolong Mbak..” pinta Mbak Rani dengan wajah yang sudah terlihat sayu dengan nafas memburu.
“Tolong, Mbak. Saya nggak bisa melakukan ini..” sahutku.
Mbak Rani hanya terdiam. Kulihat ada rasa kekecewaan di raut wajahnya. Lalu dengan tanpa suara dan wajah sedikit bersungut, Mbak Rani meninggalkanku sendirian di kamar. Aku hanya dapat melihat punggung Mbak Rani meninggalkan kamarku. Akhirnya aku dapat bernafas lega sambil mencoba mengulang kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Hingga akhirnya aku pun terpejam dan terlelap dalam tidurku.

Pagi harinya, ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku pun segera berkemas dan siap untuk pulang. Setelah kurasa semuanya beres, aku segera beranjak menuju pintu kamar. Namun ketika pintu belum kubuka lebar, aku menyaksikan adegan yang mengejutkan di ruang tengah. Di sebuah sofa di depan TV yang tengah menayangkan sebuah film porno, aku melihat Mbak Rani tengah berciuman dan saling melumat dengan seorang perempuan. Nafasnya jelas sekali terengah-engah dengan sesekali diselingi desahan-desahan. Sementara tangan kanannya memeluk perempuan yang berada di sampingnya. Dan tangan kirinya meremas-remas rambut lelaki yang ada di bawahnya. Dalam pandanganku, nampak kedua tangan lelaki itu meremas-remas payudara sekaligus puting Mbak Rani.

Di antara kedua pahanya, kulihat seseorang tengah asyik mempermainkan vagina Mbak Rani. Aku sendiri hanya terdiam, dan kurasakan dadaku mulai naik turun. Kemaluanku pun semakin mengeras.
“Oochh.. sshhtt.. yyaacchh.. terruuss Deedd..” Mbak Rani meracau sambil mendongakkankepalanya.
Sementara perempuan yang berada di sampingnya, terus menerus menelusuri leher Mbak Rani yang terlihat putih jenjang dengan sedikit ada bekas-bekas merah akibat ciuman.
Kini aku tahu bahwa masalah yang dihadapi suamiku selama ini adalah beban psikologis. Fantasi seksualnya telah membebani pikiran suamiku sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi kualitas hubungan seksual kami sebagai suami-istri. Memang aku merasakan akhir-akhir ini suamiku sering menjadi gelisah sendiri dan tidak tahu apa yang harus diperbuat dan merasa sangat letih sekali baik fisik maupun mental. Hal tersebut berpengaruh juga terhadap kualitas hubungan seks kami. Aku merasakan gairah suamiku menjadi agak menurun. Suamiku sering mengalami prematur ejakulasi dan telah mencapai puncak ejakulasi hanya dalam beberapa detik saja begitu dia melakukan penetrasi, bahkan kadang-kadang telah orgasme sebelum sempat melakukan persetubuhan sama sekali. Oleh karena itu suamiku mulai rajin mengkonsumsi vitamin dan makanan yang dapat meningkatkan potensi laki-laki, akan tetapi sejauh itu hal tersebut sama sekali tidak membantu.

Di lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap diriku. Secara terus terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat kepuasan dalam hubungan suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari apabila malamnya kami melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna. Hal ini dimaklumi oleh suamiku karena dia tahu bagaimana kualitas hubungan suami-istri kami belakangan ini. Oleh karena itu suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan alat itu mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri. Pada mulanya aku memakai alat itu sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan tetapi lama kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat tersebut sendirian di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku yang aku rasakan semakin meluap-luap.

Rupanya fantasi seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau tidak mau membicarakan hal tersebut, tidak jarang akhirnya kami terlibat dalam suatu pertengkaran yang hebat. Malahan bukan itu saja. Gairah seks-nya pun semakin bertambah turun. Hal ini lama-kelamaan membuatku menjadi agak khawatir juga, aku takut suamiku akan menderita impotensi. Aku berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun konsekuensi yang aku khawatirkan akan terjadi. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.

“Aku telah mengundang Syamsul untuk makan malam di sini malam ini”, kata suamiku di suatu hari sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk mewujudkan niatnya bersama dia, karena Syamsul adalah salah seorang yang sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang katanya cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya dan kebetulan saat itu semua anak-anak sedang libur bersama kawan-kawannya ke luar kota sehingga tinggal aku dan suamiku saja yang berada di rumah.

Memang selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Syamsul. Akan tetapi sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari suamiku tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan yang baik untuk itu. Syamsul adalah salah seorang kawan dekatnya dan aku pun kenal baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga penampilan Syamsul tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar dan atletis dari tubuh suamiku.

Aku berpikir tidak ada lagi gunanya aku berargumentasi dengan suamiku. Kehendaknya agar aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain sedemikian kuat. Hal itu sebenarnya membuatku agak tersinggung juga. Karena hal ini hanya biasa dilakukan oleh seorang wanita penghibur atau dengan kata lain seorang pelacur dan suamiku menghendaki aku melakukan hal seperti itu walaupun dengan alasan lain. Namun mengingat kehendak suamiku itu merupakan suatu akibat dari gejala psikologi, maka aku kesampingkan masakah harga diri itu. Aku hanya berpikir bagaimana aku dapat membantu suamiku mengatasi masalahnya. Selain itu aku pun mengharap bahwa dengan aku penuhinya fantasi seksualnya itu malam ini, maka suamiku tidak akan lagi mempunyai fantasi semacam itu karena secara psikologis keinginannya telah tercapai.

Ketika Syamsul datang, aku sedang merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi sebagaimana anjuran suamiku agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kudapati gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Buah dadaku kelihatan menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya aku jadi agak tertarik juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan seimbang, tidak dipenuhi oleh lemak sebagaimana ibu-ibu rumah tangga lainnya yang seumurku. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih sangat kenyal dan padat berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat keriput di sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat sempurna.

Melihat penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab itu aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang sedemikian terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk tubuhku ini memang menggiurkan selera kaum pria.

Setelah makan malam suamiku dan Syamsul duduk mengobrol di taman belakang rumahku dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan arak ginseng dari Cina. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami bertiga saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku.

“Aku telah bicara dengan Syamsul mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam ini dia akan menginap di sini! Tapi walaupun demikian kau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hubungan seks dengannya apabila memang suasana hatimu memang belum berkenan, kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepadamu!” bisik suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan suamiku itu aku diam saja. Aku tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Aku merasa sudah berputus asa bahkan aku merasa benar-benar nekat menantang kemauan suamiku itu. Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain? Atau setidak-tidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia telah dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain. Apalagi bila dalam rahimku nanti akan tersebar benih laki-laki lain selain dari benih suamiku sendiri.

Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan siap untuk pergi tidur. Secara demonstratif aku memakai baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga buah dadaku terlihat membayang di balik baju tidur itu. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Syamsul agak terhenyak untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera dapat menguasai dirinya kembali dan suamiku langsung berkata kepadaku.
“Syamsul baru saja cerita bahwa dia telah mempelajari pijat refleksi Siatzu. Aku rasa kau harus coba! Apa benar dia bisa! Kau mau kan..?” tanya suamiku kepadaku.
“Boleh saja..!” jawabku sambil agak merapatkan leher baju tidurku sehingga siluet puting susuku kini tercetak dengan lebih jelas.
“Ah sebenarnya aku tidak terlalu mahir..!” kata Syamsul, “Tapi bila mau dicoba boleh saja. Nanti setelah pijat Siatzu, saya juga akan memberikan pijatan dengan tehnik kucing mandi”, katanya lagi.
“Oo ya.. tehnik apa itu?” aku bertanya agak heran.
“Susah diterangkan sekarang, nanti saja deh kalau pijat refleksinya sudah selesai.”
“Ayo..!” kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur.

Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur untuk siap dipijit. Sebenarnya aku tetap masih merasa risih tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan suamiku dapat terwujud dengan baik.

Mula-mula Syamsul memijit sekitar bagian punggungku dengan lembut kemudian secara perlahan-lahan terus turun ke bawah menelusuri bagian pinggulku. Sementara itu aku terus berusaha sekuat tenaga menekan perasaan risih dan malu dengan melepaskan pikiranku dari kedua hal tersebut dan berusaha menikmati pijitan Syamsul itu yang sebenarnya lebih tepat dikatakan rabaan dan sentuhan di tubuhku. Rupanya usahaku itu berhasil dengan baik, akan tetapi lama-kelamaan secara tidak langsung aku jadi terbawa oleh semacam arus sensasional yang menjalar dalam tubuhku. Apalagi ketika tangan Syamsul tiba pada bagian belahan pantatku yang gempal lembut kemudian meremas-remas dengan halus pinggul serta daging pantatku yang hanya ditutupi oleh gaun tidur nylon yang tipis maka terasa adanya suatu gejolak hangat dalam diriku. Aku menjadi pasrah dan benar-benar mulai menikmati pijitannya itu.

Selanjutnya kurasakan tangan Syamsul mulai lebih berani lagi menyentuh tubuhku dengan sentuhan-sentuhan yang semakin lama semakin nakal. Bahkan dia kini berusaha membuka baju tidurku dan menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Aku hanya dapat memejamkan mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri. Kemudian dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera tubuhku yang telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum pernah bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Syamsul.

Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba kurasakan Syamsul mulai melumat bibirku dalam suatu adegan cium yang panjang dan berapi-api. Selanjutnya ketika bibir kami terlepas Syamsul berbisik kepadaku bahwa sekarang saatnya dia akan melakukan tehnik pijitan kucing mandi. Berbarengan dengan itu dia mulai menjilati seluruh tubuhku yang telanjang dengan lidahnya bagaikan seekor kucing yang sedang memandikan anaknya. Aku berpikir jadi inilah yang dia maksudkan dengan tehnik kucing mandi. Aku menjadi menggelinjang, entah karena apa. Tapi yang terang aku merasakan seluruh pembuluh darah di tubuhku menjadi bergetar dan aku terlambung dalam suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan selama ini. Apalagi sambil menjilati tubuhku dia juga meremas dan menghisap buah dadaku dengan lahap, menjilati liang kewanitaanku dengan rakusnya dan sementara itu suamiku hanya menonton saja dengan asyiknya seperti orang dungu.

Suamiku kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati habis-habisan oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Syamsul di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang belum pernah kurasakan selama ini.

Tidak berapa lama kemudian Syamsul berdiri di hadapanku melepaskan celananya sehingga dia juga kini berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Saat itu pula aku dapat menyaksikan ukuran alat kejantanan Syamsul yang telah menjadi tegang ternyata memang jauh lebih besar dan panjang dari ukuran alat kejantanan suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. Ukuran alat kejantanan Syamsul hampir sebesar lengan bayi dan bentuknya agak membengkok ke kiri.

Kemudian dia menyodorkan alat kejantanannya tersebut ke hadapan wajahku. Secara reflek aku segera menggenggam alat kejantanannya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku tidak pernah membayangkan selama ini bahwa aku akan pernah memegang alat kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan suamiku. Oleh karena itu aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan perasaanku sebagai istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh seorang laki-laki lain. Dalam hatiku tiba-tiba muncul kembali perasaan geramku terhadap suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat kejantanan Syamsul itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.

Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat alat kejantanan Syamsul yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat kejantanan Syamsul yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini. Aroma itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi.

Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Syamsul tidak tahan lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekad dan pasrah untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. Berbarengan dengan itu kurasakan alat kejantanannya kini menghimpit dengan tepat di liang surgaku dan selanjutnya secara perlahan-lahan langsung memasuki dengan mudah ke dalam liang kenikmatanku yang telah menganga lebar dan licin dengan cairan birahi.

Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Syamsul itu menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan aku merasakan alat kejantanan Syamsul memang terasa lebih istimewa daripada alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun ketegangannya. Selama hidupku memang aku tidak pernah melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain selain suamiku sendiri dan keadaan ini membuatku berpikiran lain. Aku tidak menyangka ukuran alat kejantanan seorang laki-laki sangat berpengaruh sekali terhadap kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Syamsul erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Syamsul.

Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat. Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kudapati suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Syamsul. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali geram di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Syamsul sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru. Keadaan ini tiba-tiba membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam diriku. Hal itu bukan saja disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang kualami bersama Syamsul, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain yaitu aku telah dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku. Suamiku menghendakiku berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam ini kulaksanakan sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti aku yang dulu lagi. Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku telah hadir tubuh laki-laki lain selain suamiku.

Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Syamsul menghentikan gerakannya dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegar dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi dini. Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum merasakan apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah dalam rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat kejantanannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Syamsul menghentikan persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri.

Suamiku dengan segera menggantikan Syamsul dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan bernyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan tubuhnya ke tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Syamsul, maka ketika suamiku menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku, kurasakan alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Syamsul yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.

Di lain keadaan mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang kewanitaanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya agak di luar liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah kujub dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.

Sementara itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Syamsul. Oleh karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan suamiku itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang kembali. Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak membawa hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga akhirnya aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa daya di tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan nyenyak dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar tidurku untuk membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba Syamsul yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat menyusul ke dalam kamar mandi. Dia langsung memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir bak mandi sehingga aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Syamsul menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Syamsul menarik alat kejantanannya dari liang sengamaku, kemudian dengan sangat brutal dia segera menggarap lubang duburku. Aku jadi agak terpekik keras dan bergelinjang dengan hebat ketika alat kejantanannya itu tiba-tiba memasuki lubang duburku.

Tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata betapa perasaanku saat itu mendapatkan pengalaman yang belum pernah kurasakan sama sekali. Selama ini suamiku sendiri belum pernah menyetubuhi duburku sebagaimana yang dilakukan Syamsul sekarang ini. Ketika kami sedang asyik melakukan anal seks, tiba-tiba suamiku menyusul ke kamar mandi. Dia kelihatan tidak senang kami melakukan hubungan seks di kamar mandi. Dengan nada suara yang agak keras dia memerintahkanku untuk segera kembali ke kamar dan melakukan hubungan seks di sana, di hadapannya.

Dengan masih tetap berbugil aku kembali ke kamar tidur dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Sementara itu suamiku mengikuti merebahkan diri di tempat tidur tapi untuk selanjutnya dia tertidur kembali dengan nyenyaknya. Rupanya suamiku benar-benar kelelahan disebabkan oleh suatu tekanan ketegangan syaraf yang tinggi dan juga agak setengah mabuk karena mengkonsumsi alkohol terlalu banyak. Sedangkan aku justru sebaliknya. Seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang kenikmatanku dan lubang duburku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan liar yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami selama ini. Aku kini tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah mengalami orgasme di kamar mandi bersama Syamsul.

Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Syamsul muncul di hadapanku. Dia masih tetap bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku. Dengan tatapan yang tajam dia menarikku dari tempat tidur dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan didorong oleh suatu kekuatan hipnostisme yang besar, aku mengikuti Syamsul ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Memang saat itu aku merasa diriku seakan berada dalam suatu suasana yang mirip pada saat aku mengalami malam pengantinku yang pertama. Sambil mendekap diriku Syamsul terus-menerus menciumiku sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Dan tidak lama kemudian tubuh kami kami pun sudah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.

Tidak berapa lama kemudian Syamsul membalikkan tubuhku sehingga kini aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih alat kejantanannya dan memandunya ke arah liang senggamaku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Syamsul dan mulai mengayunkan tubuhku turun naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu Syamsul dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku menggerakkan tubuhku turun naik di atas tubuh Syamsul dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Syamsul.

Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh Syamsul, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Syamsul mengacungkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan kembali alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Syamsul mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur maju dalam liang senggamaku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun naiknya alat kejantanan Syamsul yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku.

Kami bergumul bagaikan dua ekor binatang liar yang sedang bertarung, saling hempas dan saling bantai tubuh masing-masing dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan apa-apa lagi kecuali berlomba untuk menggali segala kenikmatan dari tubuh masing-masing. Nafas kami semakin memburu berdesah-desah dengan kencang yang kadang-kadang diselingi dengan pekikan kecil di luar kesadaran masing-masing. Tubuh bugil kami yang sedang bersatu padu itu pun basah dengan keringat. Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Syamsul yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.

Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena mencapai puncak orgasme berkali-kali, sementara itu Syamsul masih tetap tegar dan perkasa mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku. Akan tetapi akhirnya kulihat Syamsul tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, alat kejantanan Syamsul masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Syamsul mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Selanjutnya kubenamkan wajahku ke dadanya mengecup puting susunya sambil menjilati permukaan dada yang bidang dan penuh dengan bintik-bintik keringat. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu. Akan tetapi yang terang kurasakan keringat Syamsul saat itu membuat semacam rangsangan yang lain dalam diriku.

Syamsul agak memejamkan matanya menikmati sentuhan-sentuhan ujung lidahku itu, sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat alat kejantanan Syamsul mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Syamsul segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.

Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya. Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Syamsul sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali. Suasana ini berakhir dengan tibanya kembali puncak ejakulasi kami secara bersamaan. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Hubunganku dan suamiku pun tetap berlangsung seperti biasa-biasa saja seperti dahulu. Hanya memang sejak pengalaman kami malam itu kurasakan gairah suamiku berangsur-angsur normal. Bila kami melaksanakan kewajiban suami-istri, dia telah dapat melaksanakannya secara normal sebagaimana lazimnya walaupun secara kualitas kurasakan tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Syamsul.

Kuakui malam itu Syamsul memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa hebatnya yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Syamsul masih tetap saja kelihatan bugar. Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Syamsul masih tetap tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di malam itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.

Awalnya di suatu pagi Syamsul berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya yang katanya sudah beberapa lama tidak dapat terpenuhi dari istrinya berhubung kesehatan istrinya yang sangat tidak mengizinkan. Mulanya aku ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat birahinya yang selama itu tidak tersalurkan dan kami melakukan hubungan cinta kilat di ruang tamu sambil berdiri. Hubungan itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri.

Ketika kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Syamsul semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Syamsul sering membuat suatu pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di luar rumah, baik dari satu kamar cottage ke kamar cottage lainnya ataupun dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Kami saling mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adegan-adegan sebagaimana yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah barang tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami lakukan tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku. Sebagai wanita yang sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran suamiku malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan hubungan seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh dari teman suamiku, yang kini menjadi teman tidurku.

TAMAT

Tulisan ini dipublikasikan di T. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s