Lift

Pengalamanku yang satu ini terjadi ketika masih kuliah semester empat, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengambil sebuah mata kuliah umum yang belum kuambil, yaitu kewiraan. Kebetulan waktu itu aku kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak jauh dari gedung fakultasku, disana mahasiswanya mayoritas cowok pribumi, ceweknya cuma enam orang termasuk aku. Tak heran aku sering menjadi pusat perhatian cowok-cowok disana, beberapa bahkan sering curi-curi pandang mengintip tubuhku kalau aku memakai pakaian yang menggoda, aku sih sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan liar seperti ini, terlebih aku cenderung eksibisionis, jadi aku sih cuek-cuek aja.

Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan karena dosennya beberapa kali tidak masuk, akibat sibuk dengan kuliah S3nya. Kuliah diadakan pada jam lima sore, seperti biasa kalau kuliah tambahan pada jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun bagaimanapun saat itu langit sudah gelap, di kampus hampir tidak ada lagi mahasiswa yang nongkrong. Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih sendirian di WC kampus malam-malam gini, tapi aku segera menepis segala bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift (ini di tingkat lima). Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari belakang. Ternyata tiga orang mahasiswa yang juga sekelas denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk disebelahku dan ngobrol waktu kuliah, namanya Adi, tubuhnya kurus tinggi dan berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar. Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful dan satunya lagi yang mukanya mirip arab itu namanya Rois, tubuhnya lebih berisi dan kekar dibandingkan Adi dan Syaiful yang mirip pemakai narkoba.

“Kok baru turun sekarang Ci ?” sapa Adi berbasa-basi
“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu ?”
“Biasalah, ngerokok dulu bentar”
Liftpun terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku, jantungku jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan. Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan kecil dan dikelilingi pria seperti ini, rasa panas mulai menjalari tubuhku.
“Langsung pulang Ci ?” tanya Syaiful yang berdiri di sebelah kiriku
“Hhh-emm” jawabku singkat dengan anggukan kepala
“Jadi udah ga ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini ?” si Adi menimpali
“Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi

“.Wah kebetulan…kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong !” sahut Syaiful
“Eh…buat apa ?” tanyaku lagi
Sebelum ada jawaban, aku dikagetkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diaba-aba, Rois yang berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku pun sampai terlepas dari tanganku karena kaget.
“Heh…ngapain nih lu orang ?” ujarku panik dengan sedikit rontaan
“Hehehe…ayolah Ci, having fun dikit napa ? stress kan kuliah seharian gini !” ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu
“Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Rois
Srrr…sesosok tangan menggerayangi masuk ke dalam rok miniku. Aku tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai menggosok-gosoknya dari luar.
“Eeengghh…kurang ajar !” ujarku lemah
Aku sendiri sebenarnya menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan derajatku di depan mereka.

Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Adi menciumi leher, telinga dan tengukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat. Rois yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra. Diletakkannya telapak tangannya disana dan meremasnya pelan, kemudian kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku. Sambil menyusu tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa kusadari, celana dalamku kini telah melorot hingga ke lutut, pantat dan kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Syaiful sudah memasuki vaginaku dan menggelikitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu. Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku merapat, mengapit tangan Syaiful. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang sedang dijilati Adi, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding. Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi. Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya menyebabkan benda itu makin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku.

Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Rois memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku dan menjilati rongga didalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan keras di balik celana Adi terasa menekan pantatku. Secara refleks aku menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih terbungkus celana itu. Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Rois jadi basah dan meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Adi, dia kelihatan senang sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan. Si Syaiful malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang. Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya sesuai lah dengan badannya yang kerempeng itu.

Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Adi ke penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku
“Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong !” pintanya
“Ahhh…eemmhhh !” desahku sambil mengambil udara begitu Rois melepas cumbuannya
“Gua juga mau dong, udah ga tahan nih !” ujar Rois sambil membuka celananya
Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. jantungku jadi tambah berdegup membayangkan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya. Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rois menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua penis bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak…bukan dua, sekarang tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rois memang paling besar diantara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaful.

Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.
“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis”
“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget !”
“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh !”
Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan
“Aduh…iya-iya sabar dong semua pasti kebagian…kalo gini terus gua juga bingung dong !” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku
“Wah…marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan ?” kata Syaiful
Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Syaiful dan yang kanan meraih Rois lalu memasukkkannya pelan-pelan ke mulut.

“Weh…sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja !” gerutu Syaiful pada Rois yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan
“Wah gua kok ga diservis Ci, gimana sih !” Adi protes karena merasa diabaikan olehku
Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun penis Rois ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih penis Adi untuk menenangkannya. Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut.
Limabelas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rois kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan braku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih nyangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit ke depan tangannya menggerayangi payudara dan vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak nungging.

Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang vaginaku. Penis Syaful telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.
“Uhhh…nakal yah lu” kataku sambil menengok ke belakang “Aahhh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.
Dengan tangan mencengkram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, penisnya bergesekkan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap dia menyodokku.
“Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Adi seraya menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku
Aku semakin bersemangat mengoral penis Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati ‘helm’nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokanku terhadap Rois juga semakin dahsyat, desahan ketiga pria ini memenuhi ruang lift.

Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku
“Ooohh…anijng…ngecret nih gua !!” muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya, keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rois memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku, ga usah buru-buru katanya.
“Cepetan Ful, kita juga mau ngerasain memeknya, kebelet nih !” kata Rois pada Syaiful
“Sabar jek…uuhh…nanggung dikit lagi…eemmhh !” jawab Syaiful dengan terengah-engah
Genjotan Syaiful makin kencang, nafasnya pun makin memburu menandakan dia akan orgasme. Kami mengatur tempo genjotan agar bisa keluar bareng.
“Uhh…uhhh…udah mau Ci, boleh didalam ga ?” tanyanya
“Jangan…lagi subur…ah…aaahh !!” desahku bersamaan dengan klimaks yang menerpa.
“Hei, jangan sembarangan buang peju, ntar gua mana bisa jilatin memeknya !” tegur Adi.

Syaiful menyusul tak sampai semenit kemudian dengan meremas kencang payudaraku yang membuatku merintih kemudian dia cabut penisnya dan menumpahkan isinya ke punggungku.
“Ok, next please” Syaiful mempersilahkan giliran berikut
Adi langsung menyambut tubuhku dan memapahku berdiri, disandarkannya punggungku pada dinding lift lalu dia mencium bibirku dengan lembut sambil tangannya menelusuri lekuk-lekuk tubuhku, kami ber-French kiss dengan panasnya. Serangan Adi mulai turun ke payudaraku, tapi cuma dia emut sebentar, lalu dia turun lagi hingga berjonggok di depan vaginaku. Gesper dan resleting rokku dia lucuti hingga rok itu melorot jatuh. Dia menatap dan mengendusi vaginaku yang tertutup rambut lebat itu, tangan kanannya mulai mengelusi kemaluanku sambil mengangkat paha kiriku ke bahunya. Jari-jarinya mengorek liang vaginaku mengenai klistoris dan G-spotku.
“Ssshh…Di…ooohh…aahh !!” desisku sambil meremas rambutnya ketika lidahnya mulai menyentuh bibir vaginaku

Aku mengigit-gigit bibir menikmati jilatan Adi pada vaginaku, lidahnya bergerak-gerak seperti ular di dalam vaginaku, daging kecil sensitifnya juga tidak luput dari sapuan lidah itu, kadang diselingi dengan hisapan. Hal ini membuat tubuhku menggeliat-geliat, mataku terpejam menghayati permainan ini. Tiba-tiba kurasakan sebuah gigitan pelan pada puting kiriku, mataku membuka dan menemukan kepala Syaiful sudah menempel di sana sedang mengenyot payudaraku. Rois berdiri di sebelah kananku sambil meremas payudaraku yang satunya.
“Ci, tokedlu gede banget sih, ukuran BH-nya berapa nih ?” tanyanya
“Eeenngghhh…gua 34B…mmhh !” jawabku sambil mendesah
“Udah ada pacar lo Ci ?” tanyanya lagi
Aku hanya menggeleng dengan badan makin menggeliat karena saat itu lidah Adi dengan liar menyentil-nyentil klitorisku. Sensasi ini ditambah lagi dengan Rois yang menyapukan lidahnya yang tebal ke leher jenjangku dan mengelusi pantatku.

Sebelum sempat mencapai klimaks, Adi berhenti menjilat vaginaku. Dia mulai berdiri dan menyuruh kedua temannya menyingkir dulu.
“Minggir dulu jek…gua mo nyoblos nih ! Walah…nih toked jadi bau jigong lu gini Ful !” omelnya pada Syaiful yang hanya ditanggapi dengan seringainya yang mirip kuda nyengir.
Paha kiriku diangkat hingga pinggang, lalu dia menempelkan kepala penisnya pada bibir vaginaku dan mendorongnya masuk perlahan-lahan.
“Oooh…Di…aahh….ahhh !”desahku dengan memeluk erat tubuhnya saat dia melakukan penetrasi
“Aaakkkhh…yahud banget memeklu Ci…seret-seret basah !”
Kemudian Adi mulai memompa tubuhku, rasanya sungguh sulit dilukiskan. Penis kokoh itu menyodok-nyodokku dengan brutal sampai tubuhku terlonjak-lonjak, keringat yang bercucuran di tubuhku membasahi dinding lift di belakangku. Eranganku kadang teredam oleh lumatan bibirnya terhadapku. Senjatanya keluar-masuk berkali-kali membuat mataku merem-melek merasakan sodokan yang nikmat itu. Aku pun ikut maju mundur merespon serangannya. Saat itu kedua temannya menonton sambil memegangi senjata masing-masing, mereka juga menyoraki Adi yang sedang menggenjotku seolah memberi semangat.

Sementara dia berpacu diantara kedua pahaku, aku mulai merasakan klimaks yang akan kembali menerpa. Tubuhku bergetar hebat, pelukanku terhadapnya juga makin erat. Akhirnya keluarlah desahan panjang dari mulutku bersamaan dengan melelehnya cairan kewanitaanku lebih banyak dari sebelumnya. Namun dia masih bersemangat menggenjotku, bahkan bertambah kencang dan bertenaga, nafasnya yang menderu-deru menerpa wajahku.
“Uuuhh….uuuh…Ci…yeeahh…ampir !” geramnya di dekat wajahku
Tubuhnya berkelejotan diiringi desahan panjang, kemudian ditariknya penisnya lepas dari vaginaku dan menyemprotlah isinya di perutku. Diapun lalu ambruk ke depanku sambil memagut bibirku mesra. Karena Adi melepaskan pegangannya terhadapku, pelan-pelan tubuhku merosot hingga terduduk bagai tak bertulang, begitupun dengannya yang bersandar di lift dengan nafas ngos-ngosan. Aku meminta Syaiful mengambilkan tissue dari tasku, aku lalu menyeka keringat di keningku juga ceceran sperma pada perutku sambil menjilat jari-jari ku untuk mendapatkan ceceran sperma itu. Hingga kini pakaian yang masih tersisa di tubuhku cuma sepatu dan kaos yang telah tergulung ke atas.

Tenggang waktu ke babak berikutnya kurang dari lima menit, Rois setelah meminta ijin dahulu, memegangi kedua pergelangan kakiku dan membentangkannya. Ditatapnya sebentar lubang merah merekah di tengah bulu-bulu hitam itu, kedua temannya juga ikut memandangi daerah itu.
“Ayo dong…pada liatin apa sih, malu ah !” kataku dengan memalingkan muka karena merasa risi dipelototi bagian ituku, namun sesungguhnya aku malah menikmati menjadi objek seks mereka.
“Hehehe…malu apa mau nih !” ujar Syaiful yang berjongkok di sebelahku sambil mencubit putingku
“Lu ga virgin sejak kapan Ci, kok memeknya masih ok ?” tanya Rois menatap liang itu lebih dekat
“Enam belas, waktu SMA dulu”
Kami ngobrol-ngobrol sejenak diselingi senda gurau hingga akhirnya aku meminta lagi karena gairahku sudah kembali, ini dipercepat oleh tangan-tangan mereka yang selalu merangsang titik-titik sensitifku. Rois menarikku sedikit ke depan mendekatkan penisnya pada vaginaku lalu mengarahkan benda itu pada sasarannya.

Uuuh…vaginaku benar-benar terasa sesak dan penuh dijejali penisnya yang perkasa itu. Cairan vaginaku melicinkan jalan masuk baginya.
“Aaa-aadduhh, pelan-pelan dong !” aku mendesah lirih waktu Rois mendorong agak kasar
Sambil menggeram-geram, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit hingga terbenam dalam vaginaku.
“Eeengghh…ketat abis, memek Cina emang sipp !” ceracaunya
Dia menggenjot tubuhku dengan liar, semakin tinggi tempo permainannya, semakin aku dibuatnya kesetanan. Sementara Syaiful sedang asyik bertukar ludah denganku, lidahku saling jilat dengan lidahnya yang ditindik, tanganku menggenggam penisnya dan mengocoknya. Sebuah tangan meraih payudaraku dan meremasnya lembut, ternyata si Adi yang berlutut di sebelahku.
“Bersihin dong Ci, masih ada sisa tadi !” pintanya dengan menyodorkan penisnya ke mulutku saat mulut Syaiful berpindah ke leherku.
Sertamerta kuraih penis itu, hhmm, masih lengket-lengket bekas persenggamaan barusan, kupakai lidahku menyapu batangnya, setelah beberapa jilatan baru kumasukkan ke mulut, aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajahnya akibat teknik oralku.

Tak lama kemudian, Syaiful berkelejotan dan bergumam tak jelas, sepertinya dia akan klimaks. Melihat reaksinya kupercepat kocokanku hingga akhirnya cret…cret…spermanya berhamburan mendarat di sekitar dada dan perutku, tanganku juga jadi belepotan cairan seperti susu kental itu. Saat itu aku masih menikmati sodokan Rois sambil mengulum penis Adi. Kemudian Adi mengajak kita ganti posisi, aku disuruh pasang posisi doggie, Rois dari belakang kembali menusuk vaginaku dan dari depanku Adi menjejalkan penisnya ke mulutku. Kulumanku membuat Adi berkelejotan sambil meremas-remas rambutku sampai ikat rambutnya lepas dan terurailah rambutku yang sebahu itu. Penis itu bergerak keluar-masuk semakin cepat karena vaginaku juga sudah basah sekali. Tidak sampai sepuluh menit muncratlah sperma Adi memenuhi mulutku, karena saat itu genjotan Rois tambah ganas, hisapanku sedikit buyar sehingga cairan itu tumpah sebagian meleleh di pinggir bibirku. Setelah Adi melepas penisnya, aku bisa lebih fokus melayani Rois, aku ikut menggoyang pinggulku sehingga sodokannya lebih dalam.

Bunyi ‘plok-plok-plok’ terdengar dari hentakan selangkangan Rois dengan pantatku. Mulutku terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat, sampai beberapa menit kemudian tubuhku mengejang hebat yang menandakan orgasmeku. Kepalaku menengadah dan mataku membeliak-beliak, sungguh fantastis kenikmatan yang diberikan olehnya. Kontraksi otot-otot kemaluanku sewaktu orgasme membuatnya merasa nikmat juga, karena otot-otot itu makin menghimpit penisnya, hal ini menyebabkan goyangannya makin liar dan mempercepat orgasmenya. Dia mendengus-dengus berkejotan, lalu tangannya menarik rambutku sambil mencabut penisnya.
“Aduh-duh, sakit…mau ngapain sih ?” rintihku
Dia tarik rambutku hingga aku berlutut dan disuruhnya aku membuka mulut, di depan wajahku dia kocok penisnya yang langsung menyemburkan lahar putih. Semprotan itu membasahi wajahku sekaligus memenuhi mulutku.
“Gila banyak amat sih, sampai basah gini gua !” kataku sambil menjilati penisnya, melakukan cleaning service

Setelah menuntaskan hasratku, Rois melepaskanku dan mundur terhuyung-huyung sampai bersandar di pintu lift dimana tubuhnya melorot turun hingga terduduk lemas. Dengan sisa-sisa tenagaku aku menyeret tubuhku ke tembok lift agar bisa duduk bersandar. Suasana di dalam lift jadi panas dan pengap setelah terjadi pergulatan seru barusan. Aku mengatur kembali nafasku yang putus-putus sambil menjilati sperma yang belepotan di sekitar mulut, aku bisa merasakan lendir hangat yang masih mengalir di selangkanganku. Adi sudah memakai kembali celananya tapi masih terduduk lemas, dia mengeluarkan sebotol aqua dari tas lusuhnya, Syaiful sedang berjongkok sambil mengisap rokok, dia belum memakai celananya sehingga batang kemaluannya yang mulai layu itu terlihat olehku, Rois masih ngos-ngosan dan meminta Adi membagi minumnya. Setelah minum beberapa teguk, Rois menawarkan botol itu padaku yang langsung kuraih dan kuminum. Kuteteskan beberapa tetes air pada tissue untuk mengelap wajahku yang belepotan.

Kami ngobrol-ngobrol ringan dan tukaran nomor HP sambil memulihkan tenaga, aku mulai memunguti pakaianku yang tercecer. Setelah berpakaian lengkap dan mengucir kembali rambutku kami bersiap-siap pulang. Adi menekan tombol lift dan lift kembali meluncur ke bawah. Lantai dasar sudah sepi dan gelap, jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Lega rasanya bisa menghirup udara segar lagi setelah keluar gedung ini, kamipun berpisah di depan gedung sipil, mereka keluar lewat gerbang samping dan aku ke tempat parkir. Dalam perjalanan pulang, aku senyum-senyum sendiri sambil mendengar alunan musik dari CD-player di mobilku, masih terngiang-ngiang di kepalaku kegilaan yang baru terjadi di lift kampus barusan.

Tulisan ini dipublikasikan di L. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s