Tata DD

CHAPTER I: STEVE

BAB I

Senin, 5 Januari 1998

Tara sayang, hari ini terasa menyebalkan, lebih menyebalkan dari saat tahun baru kemarin, waktu papa marah-marah dan bertengkar dengan mama. Ahh.. dunia serasa sangat menyebalkan. Dan kamu tahu Tara ? Tadi Mira berusaha membuat gara-gara lagi ama DD…. Ingin DD jambak rambutnya dan menendang kakinya yang kurus kering. Bayangkan saja, masa dengan enaknya dia mengolok-olok DD di depan si Steve-ingat ? Rahasia kita yang terbesar ?-padahal waktu itu Steve hampir saja mengungkapkan kata-kata ajaib yang sudah kita harap-harapkan…. Tuh kan .. sebel jadinya. Si Steve bakalan bilang ngga ya ? Duh, semoga deh…..

Jumat 9 Januari 1998

Waahhh… Taraaa, duh ngga percaya deh rasanya. Hari ini Steve tampak kereen sekalee. Bayangin deh, tadi waktu bimbingan, Steve memakai baju CK-nya yang putih yang dia pakai waktu jadi MC tempo hari, dengan celana teropong hitam yang elegan… hihihi…pokonya keren abis deh. Dan kamu tahu (nih, yang paling penting !) dia duduk di sebelah DD…. Waaaaaaaaa,,,, senengnyaaa…eh Tara, DD pingin tahu deh gimana tampangnya Mira kalau dia lihat..hmm..sayangnya waktu itu dia ngga masuk. Papa marah-marah lagi, kali ini gara-gara Thomas pulang pagi semalam. Menyebalkan. Eh ya, kok Steve belum bilang juga yah..??

Kamis 29 January 1998

Tara, kamu pasti ngga percaya deh, tadi Steve nanyain lo apa DD ada acara besok Sabtu apa engga. Katanya sih dia mau ngabisin malam minggunya di rumah kita.. wuihhh… ya mesti aja DD bilang ngga ada. Tahu kan, udah berapa lama DD nungguin momen ini terjadi.

Jumat 6 Februari 1998

Ra, gimana nih… DD belum bisa ngasi jawaban ama Steve. Temen-temen bilang sih terima aja. Tapi DD khan masih ragu, abis masa sih Steve beneran suka ama DD ? Steve khan keren dan gaul, ketua osis lagi. Sementara DD….yaa…kamu tahulah. DD ngga pernah sih bilang-walaupun temen-temen banyak yang bilang-kalau DD cakep. Tapi… duh gimana dong.

Minggu 8 Maret 1998

Tara, hari ini senaaang banget. Si Steve ternyata romantis juga yah. Tadi siang dia nganterin sekotak coklat lo. Katanya met 1 bulan…hihihi… masa 1 bulan aja diperingatin. Norak ah.

BAB II

Hari itu panas sekali. Sesekali kuusap keningku yang mulai berkeringat. Jalanan di sepanjang Kertajaya tampak bercahaya dan samar-samar kulihat biasan gelombang panas menyelimuti jalan-jalan. Dalam hati aku bertanya-tanya sedang apa sih Steve.. kok lama sekali. Katanya mau jemput sebentar lagi, apa dia ngga kepikiran yah sama pertandingannya. Ah biarlah, toh dianya yang bertanding, bukan DD.. hihihi.
…………
Pertandingan hampir selesai, kedudukan sementara masih 53-50. GOR Kampus C Unair ini kok terasa panas yah. Untung tadi aku sudah membawa saputangan. Uh, kalau tidak. Tapi biar panas aku tetap senang, soalnya bisa ngeliatin Steve. Duh, cakep sekali sih anak itu. Kualihkan pandanganku dari langit-langit GOR-sambil membayangkan, toh nantinya aku kuliah di kampus yang panas ini-dan melirik ke arah Steve yang sedang mendengarkan instruksi pelatihnya. Steve tampak serius sambil sesekali menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang bertengger di bahunya. Dasar, cowokku. Keren abis. Time Out selesai. Pertandingan diteruskan.
…………..
“DD, kamu bosen yah nungguin aku tadi ?”
“Ngga kok,” ucapku sambil meengelap dahinya yang penuh keringat.
“Oke deh. Kamu mau langsung kuantar pulang ?”
Baleno silver Steve sudah membelok ke arah blok 2.
“Terserah.” Sambil lalu.
“Kalau gitu mau ikutan ngga ?” tanya Steve kemudian. Matanya melirik penuh arti, dan ujung-ujung bibirnya naik. Uh, tau deh maksudnya, ucapku dalam hati. Tapi aku juga tahu kok, dan aku juga suka, lagian khan DD saying sama Steve.
“Apaaaa..??” Pura-pura ngga tau deh.
“Ke rumah….mau mandi.”
“Huuu…dasar” ucapku manja sambil memeluknya dan menyandarkan kepalaku ke dadanya,”terserah deh.” Bau keringat Steve mengingatkanku pada bau cengkeh kering yang sering kucium dari kamar papa. Aku suka bau ini. Aku menyayanginya.
……………
Steve menggigit bibirku dengan lembut.
“Kamu manis sekali…” bisiknya
Mmmmm, rayuan lagi.
Tangan Steve perlahan mulai meraba dan mengelus lembut buah dadaku.
“Steve….”
Seakan tidak mendengar apapun, Steve menutup mulutku dengan mulutnya.
Kami sudah sering melakukan ini-yang disebut ahli sexual embracement-baik di rumahku, rumah Steve, bahkan di mobil. Buatku sih ngga papa, mungkin karena aku suka, karena aku sayang Steve, atau apapun alasannya… asalkan tidak-
“DD….”
Sekejap aku tersadar ,”Ya…”
“Umm… kamu mau ngga melakukan sesuatu untukku ?”
“Apa…”
Tanpa menjawab, Steve menggamit tanganku, memiringkan tubuhnya, menciumku di bibir. Sesaat aku terhenyak ketika tanganku menyentuh sesuatu yang keras dan lengket. Steve…..”tolong dong… dipijitin.” Apa maksudnya ? Jari-jari Steve melingkar di jariku dan seperti meenuntun jariku untuk menggenggam benda keras tadi. Entah apa yang kurasakan saat itu–mungkin ingin tahu, mungkin pula….-tapi kuturuti saja, “Pijitin dong….” Ucap Steve setengah berbisik di bibirku. Pijit bagaimana ? Dengan perasaan bingung akhirnya kugerakkan jemariku dengan gerakan meremas-remas. Steve mendesah lirih. Jemarinya kembali menutupi jemariku, dan kali ini menuntun untuk bergerak ke atas dan ke bawah. Oh, jadi ini maksudnya. Hmm… sering juga kudengar dari omongan teman-teman kalau cowok sering bermasturbasi dengan cara begini. Dan kupikir Steve ingin aku melakukan untuknya. Tapi ngga papa, lagipula aku ingin tahu kelanjutannya, atau mungkin aku terbawa perasaanku sendiri ?
Steve kembali menciumi bibirku sanbil sesekali mendesah.
“DD….”
Apa lagi.
“I want to touch you too…”
Hmm.. ??
Aku tak sempat melihat apa yang terjadi karena kepala Steve menutupi pandanganku. Namun kurasakan seperti sengatan listrik saat tangan Steve bergerak ke perutku, dan kemudian turun untuk berusaha membuka kancing celana jeansku. Oh god, apa-apaan ini ? Kulepas genggamanku dari benda keras Steve dan berusaha mendorongnya menjauh. Namun Steve rupanya lebih tanggap, dengan tenaganya yang besar sebagai seorang laki-laki, ia menggenggam pergelangan tanganku, dan menuntunku kembali-dengan setengah memaksa-ke selangkangannya.
“Please…hhh”
Sejenak kutarik kepalaku dan memandang matanya. Ia nampak seperti anak-anak.
Steve mencium bibirku.
Beberapa saat kemudian, seperti tak sadar, aku menuruti saja permainan itu. Dan entah kenapa, aku menurut saja ketika Steve memintaku menurunkan celanaku sampai ke tumit kaki. Dan akupun tak tahu suara apa yang keluar dari mulutku ketika jemari Steve memasuki celana dalamku. Sebuah perasaan campur aduk-antara takut, sedih, dan… nikmat-memenuhi rongga dadaku saat jemari Steve bergerak liar di seputar daerah V bawahku yang selama ini selalu kujaga dan kurawat dengan sebaik mungkin. Tak ada respons lebih yang dapat kulakukan selain mengerang lirih-yang langsung berhenti karena Steve kembali menutupi bibirku dengan bibirnya—dan mengencangkan genggamanku pada barang keras milik Steve untuk melampiaskan rasa geli dan nyeri yang kurasakan di pangkal pahaku.
Steve mengejang dan kurasakan hangat di jemariku. I love you Steve, isakku.

BAB III

Selasa 16 Juni 1998

Tara, hari ini DD ama Steve kembali melakukannya, dan kali ini bayangkaan… di bioskop ! Si Steve sudah gila kali ya. Gimana kalau ada orang yang lihat, coba.

Kamis 18 Juni 1998

Hari ini papa berantem lagi dengan mama. Thomas mengajakku pergi ke Dunkin’s. Yah, daripada bingung di rumah, khan lebih enak keluar.
Thanks Bro’.

Senin 29 Juni 1998

Taraaaaaa…. besok DD sweet 17 loo. Tapi rencananya sih di rumah saja. Males keluar-keluar. Lagipula DD ngga mau ntar papa sewot. Paling juga jalan keluar ama temen-temen, nonton, makan… yah dsb dsb gitulah. O iya.. si Steve ngasi hadiah apa yaa.. semoga aja sesuatu yang spesial. Amin. Hihihi…..

Selasa 30 Juni 1998 – Happy Sweet 17th –

– Mama bikinin tart blackforest yang gede banget
– Anak-anak band bikin rame rumah.. norak abis
– Steve ngecup kening DD looooo….luv u Steve !
– I love Mum

BAB IV

Berisik air hujan yang menghujam genting menutupi lantunan Savanna yang sayup-sayup terdengar dari ruang tengah. Duh, kenapa sih hujan terus siang ini ? Seperti ngga ada hari lain aja buat hujan. Kan ngga jadi nonton nih. Omelku dalam hati. Sejenak perhatianku kualihkan ke cincin perak yang tersemat di jari manisku. Very cute ha ? Masih terlintas gaya Steve waktu memberikannya bulan lalu… hihi seperti mau ngelamar saja. Aww panas, umpatan kecil keluar dari mulutku waktu mengangkat teko air panas. Iseng ah, masa DD disuruh buat sendiri. Khan ada si mBok, tapi… hihi… demi cowokku yang imut. Kuaduk pelan-pelan coklat panas yang tadi dipesan Steve…enak aja, emang restoran ?
……….
“D, gua cabut dulu. Oi Steve… tarik man.”
“Jangan malam-malam ya.” Ucapku setengah teriak, toh dia udah pergi.
“Yo’i man.” Steve menyahut cepat. Yah mereka toh sudah mengakrabkan diri. Memang sih bagi Steve nyaris tak ada yang tak mungkin, dengan kharisma dan pembawaannya, dia pasti deh bisa ngedeketin siapa aja yang dia mau. Mama aja bisa, apalagi Thomas yang cuma 3 tahun selisihnya dan sama-sama cowok lagi.
……….
Kusandarkan kepalaku di dada Steve, enak. Jarang lo kita bisa berdansa berduaan, kebetulan aja papa dan mama lagi pergi ke pernikahan anak rekan bisnis papa. Dan Thomas seperti biasa kelayapan sama gank-nya cowok-cowok kuliahan.
Steve memelukku dengan erat, lagu-lagu Kenny G melantun sendu.
…………………
Kutatap langit-langit kamarku yang berwarna merah muda, masih ingat betapa dulu aku sering melemparkan permen karet ke atas dan menunggu-nunggu kapan kembalinya, hihi… mama dulu sering sewot gara-gara hal itu. Senyumku sedikit mengembang bila mengingat kejadian itu………
Aduh. Kurapatkan pahaku menahan rasa nyeri yang mendadak muncul. Lirikan mataku menatap mata Steve yang sudah mengangkat kepalanya dan menatap dengan pandangan protes seakan berkata ,”Waw… ngga bisa bernafas nih.” Steve, apa aja sih yang kamu lakukan di situ…aw…erangan lirih kukeluarkan tanpa sadar saat Steve kembali membenamkan kepalanya dan menciumi bagian tubuhku yang paling sensitif.
Tangan Steve terangkat dan Jemarinya meraba-raba buah dadaku, kemudian meremas perlahan, setiap gerakan tangan dan (mungkin) lidahnya membuat alisku berkerut dan mataku berkaca-kaca. Kueratkan cengkeraman jariku-setengah menjambak-di rambutnya. Steve sudah tidak protes lagi bila aku merapatkan pahaku, mungkin dia sudah bisa mengatur pernafasannya, entahlah.
Steve mulai beranjak dari pinggir tempat tidur, sementara bibirnya terus merayapi dan menelusuri garis tengah tubuhku, dan membuatku kegelian saat bibirnya mempermainkan pusarku. Saat ciumannya mencapai puting buah dadaku yang sebelah kiri, ia mengguman seakan mengatakan aku sayang kamu dengan nada tak jelas. Aku juga kok Steve.
Steve mengubah posisinya menjadi setengah duduk, tangan kanannya memegang belakang kepalaku. Sejenak kutatap matanya. “Please…” kulihat bibirnya yang setengah bergetar bergerak. Kuangkat tubuhku, dan kukecup bibirnya ,”Aku sayang kamu.” Bisikku lirih. Ya, aku sayang kamu Steve. Jemari tangan kananku mulai menelusuri paha Steve, dan mengenggam penisnya yang mulai tegang. Kugerakkan tanganku ke atas dan kebawah, dan kulihat Steve memejamkan matanya, mulutnya terbuka saat ia mengerang. Tekanan telapak tangannya pada belakang kepalaku mendadak mengencang, kukecup bawah bibirnya sekali lagi, dan .membungkuk.
Kukecup perlahan ujung penisnya yang berwarna merah muda, lubang penisnya membentuk sebuah garis senyum. Kujulurkan lidahku dan menjilat ujungnya tanpe memperlambat tempo gerakan tanganku. Kudengar Steve mendesah dan tubuhnya menggelinjang. Perlahan tapi pasti, kumasukkan penisnya ke dalam mulutku.
Masih teringat waktu pertama kali aku melakukan ini, waktu itupun aku seakan tak kuasa menolak ketika melihat wajah Steve yang memohon seperti anak kecil meminta uang saku. Pertama kali aku merasa ingin muntah, namun kutekan perasaan mualku dengan berkata dalam hati bahwa betapa aku menyayangi dia. Dan akhirnya rasa itu menjadi terbiasa.
Rasa asin dan anyir mulai memenuhi permukaan lidahku. Kugerakkan lidahku ke kiri dan kekanan untuk mengeluarkan cairan ludah yang selama ini kuanggap sangat berfungsi sebagai penetrasilsir. Kugerakkan kepalaku ke atas dan ke bawah, Steve mengerang, tangannya menggenggam rambutku dan menarik serta menekan kepalaku. Aku dapat merasakan penisnya bergerak-gerak di rongga mulutku.

BAB V

Sabtu 15 Agustus 1998

Tara, malam ini DD belum berhenti menangis. Betulkah ada Tuhan di dunia ini, yang selalu memperhatikan dan menyayangi umat-Nya ? Seminggu sudah sejak kepergian Steve, kepedihan yang DD rasakan sangat dalam. Tara, kamu memang teman terbaik DD, hanya kita yang mengerti penderitaan yang kurasakan saat ini. Oh Steve, DD miss you so much. Persetan dengan Tuhan, heei… kalau Kau ada di atas sana… lihat ke sini !

Love is like a painting
Painted in a white clean canvas
You painted it with colours
So damn beauty you can’t stop watching it
Even in your deepest sleep

It tells you what to do and you do it
No mater what bad thoughts you have
You just fill and drink your cup with love
Refreshing the passion deep inside your heart

But who are you can do against God’s will
You always thanks for His love gift
But then He took it away from you
Still you believe Him after that ?

CHAPTER II Home Sweet Home

BAB I

Minggu 8 Agustus 1999

Tara, sudah 2 tahun lo sejak Steve tiada. Hmm.. DD masih ngga bisa ngelupain dia. Kenapa yah, rasa itu ngga mau pergi juga. Tara …. DD kangeennn banget. Kasihan Edo sama Bram, tapi masa DD harus crita sama mereka. Steve ngapain yah di atas sana ?

Senin 23 Agustus 1999

Mama dan papa berantem lagi. Kali in pake acara lempar-lemparan segala. Thomas udah buruan ngacir. Tega ya, masa DD ditinggal sendirian. Takut lagi.

Senin 30 Agustus 1999

Sudah 2 hari nih sejak mama ke rumah nenek. Kenapa ya Tara, kok orang tua bisa-bisanya berantem sampai kaya gitu, ngga malu kali yah ama anak-anaknya. Thomas udah 3 hari ngga pulang. Tapi DD ngga bisa kemana-mana (ya mau kemana lagi anak cewek). Tara tetap teman terbaik DD. O iya, tentu saja Stevie juga. Dia ikutan nulis lo.

Kamis 2 September 1999

Papa njemput mama di Mojokerto. Katanya sih pulang besok. Semoga aja mama mau pulang ya. Khan kasihan si mBok sendirian, DD juga. Tapi Thomas tadi pulang lo, mungkin dia dengar kali ya kalau papa pergi. Untungnya Thomas ngga kelihatan seperti orang yang baru makai obat-obatan.

BAB II

Kurasakan mulutku mengeluarkan desahan lega ketika ibu dosen (akhirnya) mengatakan kuliah sudah selesai. Waa.. dari tadi kenapa. Udah AC nya ngga kerasa, ngoceh melulu lagi. Mending deh kalau aku tadi bawa komik dari rumah.
“Van, DD pulang dulu yah.”
“Ati-ati lo D, banyak cegatan cewek cakep.”
Hihihi, aku tertawa dalan hati. Bisa aja.
Hari ini panas-panasnya Surabaya, untung saja aku bawa mobil, kasihan Vanya dan anak-anak lain yang naik angkutan. Yah, kan bukan salahku kalau mereka ngga mau diajak pulang bareng. Pokoknya DD udah nawarin. By the way, pikiranku melayang ke rumah, apa mama sudah pulang ya ? Semoga saja sudah, aku sudah kangen berat sama mama, apalagi si mBok. Dalam hati aku tertawa.
Kubelokkan mobilku memasuki raya Kertajaya. Saat membelok, mataku sekilas melirik Stevie, dan kenangan itu kembali. Kenangan saat Steve memberikannya kepadaku. Steve, seandainya kau ada di sampingku saat ini. Seandainya kau masih bisa memelukku, seandainya …. sopir bis itu ……….. tanpa terasa air mataku menetes. Cepat kuambil tissue dari bangku belakang, kukecup Stevie, dan meyakinkan diriku kalau Steve tak akan suka melihatku menangis.
……………
Si mBok menutup pagar, tidak ada yang menyambutku. Berarti mama belum pulang. Aku mendesah dalam dan memandang ke langit, panas. Mendadak keringatku keluar seperti isyarat timbulnya keinginan untuk mandi.
Papa ternyata sudah pulang, dan kulihat dia tertidur di ruang baca. Papa yang malang, kerutan di dahinya mempertua penampilannya. Tapi segalanya memang repot, karena papa seorang pengusaha yang jarang di rumah, dan mama sebagai seorang ibu rumah tangga yang selalu membutuhkan perhatian seorang suami daripada ibu-ibu istri teman ayahnya yang hanya berteman demi reputasi dan uang. Toh aku ngga bisa menyalahkan siapapun. Aku menggumam dalam hati.
……….
Air shower terasa dingin membasahi kepalaku. Kunikmati sejenak kesegaran yang kurasakan. Terlintas di pikiranku seandainya air hujan turun setiap hari dan tidak membawa penyakit. Kuambil shower gel, dan mulai menyabuni tubuhku.
………..
Aku mendesah lirih saat kurasakan jari tengahku menemukan titik sensitifku, ingatan tentang Steve yang datang mendadak membangkitkan rasa ingin disentuh, ingin dipeluk dan dicium…. ingin bercinta. Hhh,…..sudah 2 tahun lebih sejak seseorang menyentuh tubuhku, kurasakan tubuhku menggelinjang. Kuremas spons yang ada di tanganku. Aku merasakan kenikmatan yang membuat air mataku mengalir. Kugerakgerakkan jari tengahku, dan kurasakan letupan kenikmatan dan keperihan yang datang bersamaan dengan mengejangnya seluruh otot-otot di pahaku. Steve..betapa ku merindukan belaianmu…kuambil handuk dan menuju wastafel untuk sikat gigi. Mendadak perasaan mengantuk menyelimutiku… dan kakiku terasa pegal. Tapi, sikat gigi dulu.
Aku nyaris menjerit tertahan saat kulihat bayangan sesosok tubuh di kaca. …..

………
…………………

Papa ? Sejak kapan papa ada di situ ? Apakah beliau melihatku tadi ?
“Pa ? Ada apa ?” tanyaku sambil berusaha tetap tenang.
Papa tetap membisu.
Kuusahakan bertindak setenang mungkin, kuambil sikat gigiku…dan kurasakan jariku gemetar. Papa terlihat aneh dengan pandangannya itu. Aku sering membaca di koran-koran maupun di novel-noveel tentang….. ah tidak mungkin. Dan kusadari aku menghembuskan nafas lega ketika melihat dari kaca papa sudah tidak ada lagi. Ah, jangan berpikiran yang aneh-aneh, ujarku dalam hati.
……….
Aku nyaris tertidur saat kurasakan sebuah tangan membelai rambutku. Perlahan kubuka mataku dan betapa terkejutnya saat kulihat papa sudah berlutut di samping tempat tidur, dengan pandangan yang sama saat melihatku di kamar mandi tadi. Tubuhku terasa lemas semua, organ-organ tubuhku terasa sulit untuk bergerak.
“DD…..”
Pa… apa-apan ini..??
“D, papa lagi sedih…..”
Kulihat dia membenamkan wajahnya di pinggiran kasur, dan bahunya mulai berguncang. Hatiku merasa sangat iba, aku berusaha mendudukkan diriku dan menatapnya lama-lama. Kasihan Papa, pasti masalah mama yang membuatnya begini, karena aku tahu, ketegaran hatiku kuwarisi dari Papa. Kuangkat tanganku dan kubelai rambutnya. Sejenak kekhawatiranku lenyap. Aku sayang papa.
“D…..”
Papa lalu bangkit berdiri dan duduk di sebelahku, kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku, kurasakan bahuku mulai basah oleh air mata Papa. Kuangkat tanganku dan kupeluk Papa di bahuku. Dan tanpa kusadari air matakupun menetes di pipiku.
……….
“Pa! Jangan Pa!”
Aku berseru setengah berbisik-takut kalau si mBok mendengar-saat Papa mendadak menengadahkan kepalanya dan mencium bibirku.
“D.. tolong hibur Papa…”
“Tapi bukan begini caranya, Pa!”
Aku berusaha menyingkirkan tangan kekarnya yang mulai merangkulku.
Papa terus menangis. Aku berusaha berdiri, tapi Papa memegangku.
“Maafkan Papa, D…”
“Pa ! Please…jangan Pa !!”
………..
Papa memegangi kedua pergelangan tanganku, dan dengan berat tubuhnya memaksaku untuk jatuh ke tempat tidur. Air mataku mulai menetes. Namun Papa sepertinya tidak memperhatikan apa-apa lagi. Aku berusaha berteriak dan meronta, namun Papa membekap mulutku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggapai ujung dasterku dan mengangkatnya ke atas. Kusadari kekuatan tanganku takkan berdaya menghadapi berat tubuh Papa dan tenaganya sebagai seorang pria.
Papa melebarkan pahanya dan memaksa kakiku membuka, rontaanku seakan tak ada artinya bagi Papa. Tangan kanannya mulai menarik celana dalamku dan betapa kagetnya aku saat kudengar suara robekan, dan hembusan AC kurasakan dingin di antara pangkal pahaku. Oh tidak ! Aku terus meronta dan berusaha menggigit tangan papa di mulutku. Sejenak ia menjerit dan melepaskan tangannya.
“To…..”
Bibir Papa menempel di bibirku…ahh…tidak…kurasakan perutku mual dan mau muntah, ternyata Papa baru saja meminum minuman keras. Dan semakin kusadari kepercumaanku untuk meronta, dan ketidak berdayaanku. Dan air mataku menetes semakin deras. Sedih dan kecewa berkecamuk dalam hatiku. Papa yang selama ini kusayang dan kuhormati…..
“Hhhggghhh…..”
Mataku membeliak, dan jeritku tertahan saat sesuatu yang keras menekan kemaluanku. Tidak. Aku berusaha meronta lagi, dan tubuhku mengejang menahan sakit yang amat sangat saat benda keras itu menekan dan mulai memasuki rongga kemaluanku. Mataku terpejam, kurasakan otot pahaku mengejang… aku sadar apa yang telah terjadi… aku diperkosa….oleh ayahku sendiri….oleh Papa.
Papa mulai menggerakkan pinggulnya. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali memejamkan mata menahan rasa sakit di bawah perutku. Kurasakan tangan Papa mengangkat bra-ku dan mulutnya mulai menciumi buah dadaku. Aku tak sanggup berteriak lagi, hanya merintih kesakitan dan meneteskan air mata.
Saat aku mulai merasa kehilangan kesadaran, Papa mengejang di atas tubuhku dan kurasakan sesuatu bergejolak di dalam kemaluanku. Papa mengerang. Kurasakan sekujur tubuhku seakan mau hancur. Otot-otot pahaku mengejang…..suatu sengatan listrik menghantam ubun-ubunku. Suatu perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dan secepat datangnya, secepat itu pula hilangnya, kurasakan sekujur otot-otot di tubuhku melemas. Dan penis Papa keluar dari kemaluanku. Semua menjadi gelap.

Tulisan ini dipublikasikan di T. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s