Ketika Nafsu Menjadi Raja

Malam ini adalah malam minggu terakhir saya di Jakarta (Senin tanggal 6 September 1999 saya akan berangkat ke UK). Jam dinding sudah menunjukkan 21.20. Dengan tidak sabaran saya berjalan mondar-mandir di ruang tamu kost saya. Saya sudah janjian dengan ke tujuh teman saya untuk pergi ke karoake malam sebagai acara perpisahan. Dengan kaos ketat Calvin Klein berwarna hitam dan jeans biru saya terlihat sangat rapi dan menarik, apalagi bau parfum saya begitu semerbak.

Tuuuttt…. Tuitttttttttt…. terdengar klakson mobil dan disusul teriakan : “Gussssssssss…. Ayo….” Dari suaranya saya tau itu adalah Gunawan, sang Perjaka.

Dengan buru-buru saya berlari ke kamar untuk mengambil HP dan kunci kamar saya. Sesudah itu saya mengunci pintu kamar dan bergegas keluar.

Di halaman kost saya terlihat dua mobil, satu Toyota Corola warna putih yang merupakan milik si Peter dan satu Suzuki Esteem milik si Herry (bukan tokoh utama). Saya ngeliat si mobilnya si Herry sudah berisi empat orang, jadi saya menuju mobilnya si Peter.

“Wow… cakep nih…. kayanya ini malam yang tidak terlupakan….” komentar si Andi yang duduk di samping Peter yang mengemudikan mobil
ketika saya masuk. Perkataan tanpa ia sadari akan menjadi kenyataan!!!

Kemudian meluncurlah kedua mobil tersebut ke daerah Mangga Besar. Berdasarkan petunjuk Peter dan ramalan saya (hihi…) kita sepakat untuk pergi ke karaoke di hotel Transit Mangga Besar (saya lupa Mangga Besar berapa, tetapi kalo dari Mangga Besar mengarah ke Gunung Sahari, belok ke sebelah kanan sekitar 50 m).

Dalam perjalanan kitanya bercanda apa aja, dari pacar baru Gunawan yang sangat montok, petualangan baru si Andi, sampai ke tamu Jepangnya si Peter yang bernafsu ama cewek Indonesia.

Tanpa terasa sampailah kita didepan hotel tersebut. Terlihat keempat temen saya yang lainnya sudah menunggu. Setelah memarkir mobil, Peter memimpin kita ke dalam (soalnya dia udah sering ke sini). Kita berjalan melewati lobby hotel, terlihat beberapa cewek cakep yang berpakaian seronok.

“Wah….. adik gua udah berontak nih….” kata saya yang dilanjuti dengan ketawa temen-temen saya. Memang saya terkenal dengan nafsu saya yang gede, prinsip saya ya mirip semboyannya lampu Philips “Tegang Terus”.

Di ujung lorong tersebut, Peter meminta kita menunggu, dia berbelok ke kanan untuk mencari manager karoake untuk membooking kamar. Iseng-iseng saya berjalan ke lorong sebelah kiri. Di ruangan pertama terdapat cafetaria atau semacam restoran. Didalamnya… amboi…. banyak cewek cakep yang berpakaian seksi…. bener-bener cakep…. Saya mulai menghitung satu.. dua.. tiga… setidaknya ada 13 cewek yang cakepnya selangit…..

“Cakep ya?” tanya si Andi “kalo loe mau disini juga ada cewek yang langsung bisa dipakai, harganya 250 ribu berikut kamarnya” Kayak germo aja tuch anak.

“Nggak mau ah…” jawab saya. Saya emang nggak suka membayar untuk urusan bercinta, bukannya pelit tetapi saya nggak mau bercinta ama sembarang cewek. Harus cewek yang saya cinta dan dianya juga harus cinta sama saya. Dengan begitu pasti lebih nikmat khan? Asyiknya saya gampang sekali jatuh cinta…. hahaha…

“Ayo… temen-temen, ikut gua… gua udah booking kamar yang cukup untuk 20 orang” seru si Peter. Terpaksa dech saya mengalihkan perhatian saya dari belasan cewek di cafetaria tersebut. Seperti anak ayam, kita mengikuti Peter ke kamar karoake.

Ruangan karoake tersebut cukup luas, terdapat sofa yang besar dan di dekat pintu masuk ruangan tersebut saya melihat ada toilet yang cukup bonafide. Asyik juga.

“Silahkan duduk” kata seorang tante dengan dandanannya yang menor. Saya nebak ini pasti germonya yang biasa di panggil Mami.

“Mau pesan berapa cewek?” tanya si Mami. Pesan… pikir saya, kayak barang aja.

“Tolong panggilin 8 orang cewek dong” jawab si Peter dengan bahasa yang lebih halus. Memang temen saya ini tutur bahasanya sangat sopan dan halus. Tetapi kita-kita ini semuanya terlihat sopan dan polos lho. Jarang ada cewek yang bisa menebak kalo kita-kita ini adalah cowok yang suka memuaskan wanita…. hehe….

“Seperti biasa, cariin gua yang rada tomboi dan berrambut pendek” lanjut si Peter, memang dia ini sukanya ama cewek yang rada tomboi.

Kemudian si Mami keluar dan dalam waktu singkat dia sudah kembali dengan membawa 6 orang cewek. Dengan cepat mata saya menyapu mereka yang datang, cakep-cakep…. merekanya masuk dan berkenalan dengan kita. Saya sich nggak memperhatikan nama mereka, yang penting saat itu adalah rok pendek tanpa stocking… hihi… Temen-temen tau dong maksud saya? Di ruangan gelap kayak karaoke ini ngapain sich cari
yang cakep banget kalo dianya pake baju yang tebal dan celana jeans. Dengan cepat otak dan mata saya bekerja. Kemudian saya melambaikan tangan saya ke seorang cewek yang bernama Dian. Dia memakai rok super mini, kaos ketat tanpa lengan, dan tanpa stocking. Saya meminta dia duduk di sebelah saya.

Akhirnya kelima temen saya sudah mendapatkan pasangan mereka, tinggal si Boy dan Gunawan yang masih terlihat ragu-ragu. Tetapi karena hanya
6 cewek, terpaksa dech merekanya menunggu. Tetapi tidak lama kemudian si Mami sudah kembali lagi dengan dua orang cewek. Satu seorang cewek yang baru datang tersebut sangat menarik perhatian saya (saya sedikit menyesal sudah memilih Dian), namanya Bella. Postur tubuhnya kecil (sekitar 155 cm) dan agak montok. Namun ada yang misterius di tatapan matanya. Oh-ya, saya paling suka memperhatikan mata seseorang, buat saya mata bisa menceritakan kondisi orang tersebut. Kita bisa tau orang tersebut lagi sedih, senang, terangsang, orgasme (hehe…), dsb… Tatapan si Bella ini begitu liar dan menantang. Akhirnya Gunawan memilih si Bella. Sementara itu saya terus menerus memperhatikan si Bella. Saya begitu penasaran.

Abis itu kitanya bernyanyi riuh rendah. Suara si Peter yang sangat bagus bercampur baur dengan suaranya Andi yang sumbang. Pokoknya ribut banget. Sambil bernyanyi kitanya bercanda dan ngobrol ke sana ke mari. Dari situ saya tau Diannya berasal dari Bandung sementara cewek lain ada yang berasal dari Medan, Padang, Surabaya, Batam, dsb. Ternyata prinsip Bhineka Tunggal Ika berlaku juga di sini. Si Bella sendiri berasal dari Jakarta. Tetapi beda dengan yang lain, si Bella ini lebih pendiam. Karena Gunawan sendiri tidak begitu pintar bergaul, jadinya mereka cuman diam-diaman. Saya sendiri sudah bercanda kemana-mana ama si Dian, kadang tersenggol buah dadanya yang montok, kadang saya meletakkan tangan saya di pahanya yang mulus.

Setelah hampir dua jam bernyanyi, saya melihat Bella berjalan keluar. Dengan alasan lapar, saya menyusul dia keluar. Terlihat Bella berjalan menuju lobby dan merokok di sofa yang terletak dekat pintu masuk.

“Hai… ngapain disini?” tanya saya.

Bella menatap tajam ke saya “Panas di dalam…. mau cari udara seger”
jawab dia. Abis itu saya memancing dia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dia, tetapi jawaban dia cuman singkat-singkat aja….. saya memutar otak.

“Boleh melihat telapak tangan loe?” tanya saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan ilmu ramalan saya.

“Mau ngapain?” tanya dia cuek.

“Mau melihat nasib loe…..” jawab saya.

Bella memandang saya dengan dengan ragu-ragu, kemudian dia menyodorkan tangan kanannya.

“Yang sebelah kiri………” kata saya.

Kemudian dia menjulurkan telapak tangan kirinya ke saya. Saya pegang tangannya…. Hmmm… sangat halus……… Kemudian saya memperhatikan garis-garis tangannya. Jujur saja, saat itu saya begitu kaget, garis tangan begitu amburadul yang menandakan kehidupan dia yang juga amburadul.

Saya memperhatikan garis cintanya, kemudian saya berkata: “Kamunya sangat susah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tetapi baru-baru kamu menemukan orang tersebut, sayang kaliannya harus berpisah………”

Saya menatap wajahnya. matanya yang besar terbelalak….”Teruskan….” kata dia.

“Kalian berpisah karena persoalan yang sangat prinsipil, bisa masalah agama atau suku” lanjut saya, “gua nggak tau pasti tetapi orang tua dia atau orang tua kamu tidak setuju dengan percintaan kalian…………”

Sekarang tatapan matanya yang liar menjadi lembut, terlihat sendu dan sedih. Dia menghela nafas panjang “Orang tua dia nggak setuju……” jawab dia lemas….”terus?” tanya dia lagi.

Saya memperhatikan garis keluarga dia, hancur….”kamu sendiri tidak mempunyai keluarga yang harmonis, kamunya sering berantam dan jarang berhubungan dengan keluarga anda lagi. Bahkan kamu membenci mereka…”

Kali ini terlihat matanya berkaca-kaca. Wah, saya paling nggak bisa melihat cewek menangis di hadapan saya. Saya sedikit menyesal. Akhirnya saya memutuskan untuk ngomong sesuatu yang menyenangkan……….

“Tetapi kalo kamu nggak berputus asa, kamu akan menemukan lelaki kedua yang sangat mencintai anda” kata saya. Sebenarnya perkataan ini cuman untuk menghibur dia. Ternyata efeknya luar biasa, terlihat keriangan dan secercah harapan di sorot matanya.

“Terus…………?” selanjutnya saya cuman asal ngomong aja, saya bilang kalo dia berusaha dia akan sukses (tentu aja bukan?).

Abis itu kitanya menjadi akrab, dia ngobrol banyak mengenai kondisi dia. Ternyata ramalan saya hampir seluruhnya bener!

Kemudian timbul keisengan saya, saya meminta agar dia menunjukkan telapak tangannya lagi. Kemudian saya bilang “Jangan marah ya, gua ngeliat kamunya udah nggak perawan… dan mempunyai banyak cowok…”

Hehe… tentu aja pikir gua, masa sich ada wanita malam yang masih perawan….. hihi, sebagai informasi, berdasarkan hasil survey gua dengan pertanyaan ini, hampir 80% cewek (cewek baik-baik yang belon kawin!) di Jakarta mengaku merekanya tidak perawan lagi.

“kok tau sich?” jawab Bella dengan polos sambil ngeliat telapak tangannya sendiri … hehe… mana bisa sich tau perawan nggak perawan dari telapak tangan… pikir saya. Buat rekan yang belon pengalaman, jangan coba-coba menanyakan persoalan tersebut ke cewek yang baru anda kenal, ok? Biasanya saya memberikan ramalan yang jitu dulu baru nanya hal tersebut, jadinya mereka udah percaya ama saya. Kalo datang-datang terus kalian nanya perawan atau nggak ya siap-siap digampar……….

Setelah itu kita nya sepakat untuk masuk kembali ke ruangan karaoke. Singkat cerita, kita nyanyi atau teriak-teriak selama 5 jam, sesudah membayar (hampir 2.4 juta!) kitanya saling pamitan ama cewek masing-masing. Saya liat temen-temen saya pada minta nomor telepon, saya sendiri nggak begitu tertarik ama Dian. Abis saya udah mau berangkat ke UK….. tetapi mata saya terus terpaku ke satu sosok…. Bella!

Sambil berjalan keluar saya mendekati Bella dan menawarkan jasa untuk mengantar dia. Pertama dia menolak. Oh-ya, cewek di karoake ini biasanya high class dan tidak bisa langsung di ajak tidur. Kecuali dianya suka banget atau bayarannya mahal banget.

“Ayo dong, kasian loe nya sendirian… Ntar diculik lagi…. ama kita-kitanya kan aman. Dijamin nggak di apa-apain dech…” bujuk saya.

“Itu yang gua takutin, nggak di apa-apain….” jawab Bella. Eh, nantang nich….

Akhirnya dia setuju juga kita dianterin kita. Kita mempersilahkan dia duduk di depan, disamping Peter yang menyetir mobil. Saya sendiri duduk di belakang, di tengah, jadi bisa agak maju ke depan untuk ngobrol dengan Bella. Di sebelah saya duduk Andi dan Gunawan.

Sewaktu di mobil si Peter menanyakan alamat si Bella, tetapi anehnya dia tidak mau memberitahu kita.

“Muter-muter aja dech……… gua malas pulang” jawab Bella. Akhirnya si Peter cuman muter-muter di daerah kota, tanpa tujuan. Waktu itu kita banyak ngobrol dan menurut Bella, dia anak orang kaya yang tinggal di daerah Pondok Indah, dan dia ke karoake cuman untuk bersenang-senang, bukan untuk duit. Dia itu freelance, dan kita percaya ama dia soalnya si Peter nggak pernah ngeliat dia sebelumnya (si Peter hampir tiap hari nongkrong di karoake tersebut).

Saya sendiri sibuk mikir, maunya apa sich ini anak? Akhirnya saya nanya ke Bella “gua ngantuk nich, cari hotel aja ya?”

Jawabannya sangat mengangetkan “Siapa takut…. tetapi saya nggak mau berdua….. maunya loe semua ikut”

Saat itu yang timbul di benak gua adalah dianya nggak mau ML, jadi cuman tidur rame-rame. Akhirnya saya meminta Peter untuk mencarikan hotel, abis capek muter-muter terus.

Setelah berdiskusi cukup lama, kita memutuskan untuk check in di motel yang berlokasi di Jalan Daan Mogot (saya lupa namanya). Tetapi saya tau ada tiga motel di Daan Mogot, kita menuju ke motel yang berada di sebelah kiri (kalo mengarah ke perempatan Grogol). Motel ini sangat lux dan biayanya nggak mahal-mahal amat. Saat itu harganya 98 ribu untuk enam jam. Tetapi masalahnya, motel hanya memperboleh dua orang didalam kamar. Sekarang kitanya berlima, gimana ya? Akhirnya kita sepakat untuk check in secara sembunyi-sembunyi.

Tiba di motel tersebut, Peter membelokkan mobilnya ke dalam. Kita yang dibelakang harus membungkuk dan bersembunyi. Saya mengintip dikit, terlihat pintu-pintu garasi yang tertutup, gila.. penuh banget. Akhirnya kita menemukan garasi yang kosong di ujung jalan masuk. Peter segera memasukkan mobilnya ke garasi, setelah itu menutup pintu garasinya dengan menekan satu tombol.

Saat itu saya sedikit was-was, bisa nggak ya kita-kitanya dijebak atau sebagainya. Tetapi mikir-mikir nggak mungkin juga, akhirnya sesudah pintu garasi ditutup kita-kitanya berhamburan naik ke kamar yang berlokasi di atas garasi.

Kamar motel ini termasuk lux dan bersih. Didalam kamar terdapat satu kasur air berwarna hijau yang cukup besar. Di sebelah pintu masuk terdapat toilet dan shower. Uniknya shower ini tidak mempunyai pintu, hanya dan dindingnya berupa kaca jadi tentunya orang yang didalam kamar bisa ngeliat orang yang lagi mandi. Gua mikir, kalo room-boynya datang ketauan nggak ya? Biasanya sekitar 15 menit kemudian room boy nya akan dating untuk memungut bayaran.

Gua memperhatikan jam tangan gua, hampir jam 3 malam. Melihat kasur, langsung saja kita-kitanya menjatuhkan diri ke sofa dan ke ranjang. Gua sendiri berbaring di samping Bella. Sekarang di ruangan yang terang benderang baru saya sadari kalo si Bella ini cakep sekali. Kulitnya putih mulus. Dadanya tidak terlihat besar namun terlihat sangat kenyal. Iseng-iseng gua mencoba memeluk dia. Dia tidak menolak. Gua mengarahkan ciuman gua pipinya, lagi-lagi dia cumin diam. Tetapi saya tidak berani melangkah lebih jauh, soalnya ada tiga temen saya
di ruangan tersebut.

Peter terlihat sangat tertarik ke Bella, dia berbaring di sisi lain dari Bella. Sekarang Bella berbaring diantara saya dan Peter. Rok pendeknya tidak sanggup menyembunyikan celana dalamnya yang berwarna putih, kontras dengan roknya yang hitam. Gua melihat tangan Peter mengelus pahanya. Otak gua bekerja keras, gimana caranya bisa main ya? Kayaknya paling mending meminta temen-temen gua menunggu di mobil, jadi kita bisa bergantian.

“Pet, Gun, dan Andi gimana kalo kalian menunggu di bawah?” Tanya gua…. ” Tentunya kalo room boynya udah pergi”

“Nggak mau ah…..” ternyata si Bella yang menjawab,”Gua mau kalian semuanya berada di kamar ini!”

“Loe kuat emangnya…?” pancing si Andi.

“Emangnya loe sendiri kuat?” jawab si Bella menantang.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dengan buru-buru, saya, Gunawan dan Andi masuk ke toilet. Bella tetap berbaring di kasur dan Peter membukakan pintu. Dia sendiri sudah menyiapkan uangnya sebesar 140 ribu (kamar 98 ribu, kondom 30 ribu, dan sisanya buat tip). Room boy nya sendiri cukup tau diri, dia hanya berdiri di luar kamar.

“Mas, tolong beliin kondom dong, satu bungkus!” terdengar suara si Peter.

“Isi tiga biji mas?” room boynya menjawab.

“Nggak, yang isi 12 biji.. dan mereknya harus Durex (hihi… gua di sponsor Durex nih)” jawab Peter. Kita yang di kamar mandi hampir ketawa kok kayaknya nafsu banget ya?

Ketika Peter sedang membayar, Bella berjalan ke kamar mandi. Di kamar mandi yang berukuran 1.5 x 1.5 m ini sekarang penuh terisi 4 orang.

Di hadapan kita yang terbegong-bengong, Bella menurunkan celana dalam putihnya secara perlahan hingga ke atas lututnya dan memamerkan bulu kemaluannya yang tipis. Kita cuman melongo melihat dia buang air kecil di hadapan kita. Mau bersuara pada kagak berani soalnya room-boy nya masih di depan pintu. Saya liat mukanya si Gunawan mulai memerah. Bella sendiri terus tersenyum sambil memperhatikan muka kita yang pasti keliatan bloon. Ketika selesai, dia melepaskan celana dalamnya dan meletakkannya di kaitan di kamar mandi. Setelah itu dengan senyum memancing dia berjalan dan berbaring telungkup di kasur.

Ketika mendengar pintu kamar ditutup Peter, kitanya segera berhamburan mendekati Bella. Si Peter sendiri masih belon menyadari apa yang terjadi. Saya berdiri di belakangnya Bella dan pahanya sedikit terbuka, dari situ saya bisa melihat belahan kemaluannya yang berwarna merah. Terlihat bagus dan tanpa kerutan.

Saat itu Andi sudah berbaring di sebelah Bella, terlihat dia meraba punggung dan pundak Bella yang masih tertutup kaos. Gunawan berdiri di samping, terlihat ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Peter dengan sigap membaca situasi, dengan cepat dia sudah berada di sisi lain dari Bella dan mulai membelai paha Bella yang mulus. Saya sendiri masih ragu-ragu, main rame-rame? Malu dong… Masa diliat temen-temen saya? Saya pernah bermimpi untuk main rame-rame tetapi dengan beberapa cewek dan cowoknya cuman saya. Tetapi sekarang kondisi yang saya hadapi begitu berbeda. Maju atau mundur ya?

Ketika itu Andi mulai membuka kaosnya Bella, terlihat Bella hanya pasrah saja. Dalam sekejap lepaslah kaos Bella dan terpampang lah tubuh mulus dia yang tidak bercacat sedikitpun. Peter yang berada di bagian bawah tidak mau kalah, terlihat dia menaikkan rok mini si Bella hingga ke atas pinggulnya. Tetapi Bella menutup pahanya dan saya hanya bisa melihat dua bongkah pantat yang mulus dan menantang.

Ketika pandangan saya beralih ke atas, terlihat Andi sudah berhasil melepas behanya Bella. Karena si Bella membelakangi dan berbaring terlungkup, saya tidak bisa melihat buah dadanya. Kemudian saya berjalan menghampiri mereka. Terlihat Andi mencoba membalikkan tubuh si Bella.

Ketika Bella membalikkan badannya, jantung saya hampir berhenti berdetak. Buah dadanya begitu indah. Tidak terlalu besar, sekitar 32 B tetapi begitu kencang. Pentilnya terlihat begitu kecil dan berwarna coklat muda. Saya menelan ludah. Bella terlihat memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan. Saat itu pikiran normal saya sudah tidak jalan. Dengan mantap saya berjalan menuju ranjang.

Peter rupanya sangat tertarik juga pada buah dadanya Bella, dia meninggalkan paha dan pinggul Bella dan meneruskan remasan tangannya ke buah dada Bella. Andi sendiri sudah mencium buah dada lainnya. Saya bergerak ke daerah paha dan kemaluan Bella yang masih tertutup oleh roknya. Saya meletakkan tangan saya di pahanya, terasa sangat mulus dan hangat.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu… tok… tok… tok…

Kita seakan di bangunkan dari mimpi indah. Dengan cepat saya, Gunawan, dan Andi bersembunyi di kamar mandi. Saat itu saya kepengen tertawa, tetapi karena takut ketauan saya memaksakan diri untuk diam. Dari dalam kamar mandi saya melihat Bella meraih handuk yang terletak di kasur dan menutupi bagian dadanya. Terlihat dia membereskan roknya juga.

Rupanya yang datang adalah room boy untuk mengantarkan kondom pesanan Peter. Selang beberapa waktu terdengar Peter menutup pintu. Segera kita yang di kamar mandi berhamburan keluar.

Saya, Peter, dan Andi berjalan ke arah Bella dan kita melanjutkan belaian dan ciuman kita. Saya berusaha membuka resliting rok mininya sedangkan Andi dan Peter berjuang membuka handuk yang dililitkan di dadanya.

“Udah ah…..” tiba-tiba Bella bersuara. Saya sedikit kaget karena ada nada marah di suaranya. Rupanya kehadiran room boy menyadarkan dia. Tetapi saat itu kita sudah terangsang dan melanjutkan remasan, belaian, dan ciuman kita.

Bella meronta dan berkata “Udah……… gua bilang……… udah!!!”

Kita menghentikan segala tindakan kita dan saya berjalan menghampiri Bella.

“Kenapa yang? Kenapa marah?” tanya gua.

Dia cuman cemberut.

“Kenapa sich? Kalo loe nggak mau ya nggak papa…..” bujuk saya.

Dia berdiam diri. Kemudian saya berbisik di telinganya “Kenapa sich?”

Tiba-tiba Bella menjawab, “Kaliannya egois!”

Kita terdiam semuanya, kenapa ya dibilang egois?

“Gua udah hampir telanjang dan kalian masih berpakaian lengkap. Ayo buka pakaian kalian semuanya!” perintah dia. hahahaha… Rupanya karena itu toch….

Mendengar permintaan Bella, dalam hitungan detik Peter dan Andi segera mencopot pakaiannya sehingga hanya mengenakan celana dalam. Saya berpandang-pandangan dengan Gunawan.

Gila! Pikir saya, ini sungguhan! Saya seakan-akan sedang bermimpi. Tetapi saya tidak berpikir lama karena Peter dan Andi sudah naik ke kasur. Terlihat tonjolan di celana dalam mereka.

“Loe mau nggak, Gun?” tanya saya ke Gunawan. Karena takut Peter dan Andi melangkah lebih jauh segera saja saya mencopot pakaian saya hingga hanya mengenakan celana dalam. Gunawan juga melakukan hal sama. Sekarang di kamar tersebut terdapat lima insan manusia yang hanya mengenakan celana dalam……… hihi….

Kemudian saya naik ke ranjang. Si Bella sekarang berbaring telentang. Peter dan Andi sedang menikmati buah dadanya Bella, Peter yang sebelah kanan dan Andi yang sebelah kiri. Bella sendiri hanya menutup matanya, tetapi terlihat rona kemerahan di mukanya. Rupanya dia sudah terangsang sekali. Saya berusaha membuka resliting roknya Bella, cukup lama saya berjuang. Akhirnya saya berhasil juga. Kemudian saya menarik rok tersebut ke bawah. Karena celana dalamnya sudah ditinggal di dalam kamar mandi, tatapan saya langsung tertuju ke bulu kemaluannya yang jarang dan halus. Tangan saya mengelus pahanya dan naik ke arah kemaluannya. Bulunya terasa halus (saya baru tau keesokkan harinya bahwa si Bella berumur 18 tahun!). Tiba-tiba terasa tangan lain di pahanya Bella, rupanya tangan si Gunawan. Tangannya terasa sangat dingin… hihi… masih perjaka sich……

Kemudian si Gunawan menurunkan mulutnya untuk mencium paha kirinya Bella, ciuman tersebut dilanjutkan ke arah kemaluannya. Gila juga saya pikir…. Anak ini bener perjaka nggak sih? Ciuman Gunawan sekarang berlanjut ke kemaluannya Bella. Bener lho kemaluannya Bella masih terlihat sempit dan berwarna kemerah-merahan. Saya merasakan nafsu saya semakin menggelegak.

Sementara itu si Bella mulai merintih dan mendesis. Kayaknya dia sangat menikmati permainan kita. Bayangin aja empat puluh buah jari, delapan tangan, dan empat lidah …. cewek mana yang tahan?

Tiba-tiba Gunawan menengadahkan kepalanya dan berbisik ke saya. “Bau, Gus….” Katanya dengan mimik yang begitu polos. Hampir saja meledak ketawa saya mendengar komentar dia. Untung saja saya masih bisa menahannya.

“Ya memang begini baunya…….” jawab saya. Padahal saya sendiri belon mencoba.

“Tetapi punya pacar gua nggak begini….” Jawab si Gunawan, sekarang ketauan kalo dianya pernah melakukan hal tersebut ama pacarnya….. hehe……

“Udah, sikat aja…. Kalo nggak mau… gua mau nich” kata saya mengertak. Tetapi jujur aja sebenarnya saya nggak begitu bernafsu melakukan ismek (tau khan kepanjangannya?) di hadapan temen-temen saya.

Di saat kita lengah karena mengobrol, kepala Andi ternyata sudah sampai di kemaluannya Bella. Memang temen saya ini terkenal dengan jilatan sejuta kenikmatannya. Terlihat dia menjulurkan lidahnya di klitoris Bella. Dalam hitungan detik terdengar teriakan Bella yang semakin histeris.

Saya kemudian berpindah tempat dan sekarang saya meraih buah dada kiri si Bella dan saya remas perlahan. Remasan jari saya berlanjut ke putting susunya yang masih basah oleh ludah Andi. Karena itu, saya memutuskan untuk tidak melakukan jilatan dan hisapan. Saya memperhatikan muka si Bella yang sudah merah padam, dia tetap memejamkan matanya.

Kemudian Bella membuka matanya dan mendorong saya dan Peter.

“Sekarang saya pengen main…. ayo satu per-satu!” terdengar suara Bella disela-sela rintihannya.

Kitanya bengong dan saling melirik. Akhirnya Peter menawarkan diri menjadi yang pertama tetapi dengan segera ditolak kita soalnya dia ini bisa main 2 jam tanpa orgasme. Dia bisa mengatur waktu ejakulasi. Kasian dong kita-kitanya kalo harus nunggu selama itu, terlanjur terkilir batang kemaluan kita kali.

Saya menganjurkan agar Peter mendapat giliran terakhir dan saya yang pertama, kemudian di susul Gunawan dan Andi.

“Nggaaakkkk maaauuuu!! ” jawab Gunawan terlihat ketakutan “Saya yang terakhir aja……”

Karena tidak ada komentar dari Andi dan Peter, saya langsung berjalan ke meja dan membuka bungkusan kondom yang baru dibeli. Ketika berjalan ke ranjang, saya meminta temen-temen saya untuk tidak melihat ketika saya main soalnya saya merasa nggak bakalan bisa main kalo diperhatikan. Merekanya setuju (memang temen saya sangat pengertian….). Mereka kemudian membalikkan sofa yang menhadap ke ranjang ke arah lainnya dan duduk di sana.

“Ayoooooo! Cepetannnnn….” pinta si Bella.

Bella sendiri sudah menbuka pahanya lebar-lebar. Tanpa pikir panjang lagi saya meloloskan celana dalam saya dan memakai kondom tersebut. Melihat tubuh mulus si Bella, nafsu saya sudah sampai di ubun-ubun. Apalagi saat itu dia meremas-remas buah dadanya sendiri.

Saya naik ke kasur air tersebut dan mengarahkan batang kemaluan saya di kemaluannya Bella yang belahannya terlihat begitu rapi dan tanpa kerutan. Saya mencium keningnya dan perlahan-lahan saya mulai memasukkan batang kemaluan saya. Bella menutup matanya dan mendesah……….

Saya sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluan saya menyusuri lubang kemaluan Bella. Terasa begitu sempit dan jepitan otot selangkangannya begitu enak.

Kemudian saya mulai menggerakan pinggul saya, turun naik secara perlahan sambil menikmati setiap kenikmatan yang ada. Karena kasur tersebut adalah kasur air, pertama-tama cukup sulit bagi saya untuk mengontrol gerakan saya. Tetapi lama-lama saya bisa memanfaatkan goyangan kasur tersebut untuk memperkuat hujaman senjata gua.

Bella melingkarkan tangannya di leher saya. Gerakan saya semakin lama semakin cepat sambil sekali-kali saya menghujamkan kemaluan saya sedalam-dalamnya.

Tangan saya bergerak meremas buah dadanya dan gerakan saya semakin cepat apalagi saat itu Bella ikut menggerakkan pinggulnya…. Tiba-tiba saya mendengar nafas Bella yang semakin cepat……… teriakannnya semakin
keras…….

“Ah………… ahhhhhhhhhhhh AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH……!!!!!!! terus Gus………… saya mau…… AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH” Teriak si Bella. Rupanya dia sudah mencapai puncak kenikmatannya. Terasa tubuhnya mengejang dan terasa cengkraman kukunya di pundak saya…. Sakit…. tetapi nggak saya pikirkan (abis lagi enak…hihi…) Saya menghentikan gerakan pinggul saya dan mencium pipinya.

Kira-kira dua menit kemudian, saya melanjutkan hujaman batang kemaluan saya. Di mulai dari perlahan dan makin cepat. Dua menit kemudian Bella sudah kembali terangsang. Dia menggerak-gerakkan pinggulnya, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa…. Tiba-tiba saya merasakan cairan sperma saya sudah mendesak keluar…………

“Gua datang… Bell……” kata saya sambil menghujam batang kemaluan saya sekuatnya………ah……… nikmatnya.

Ketika saya mencabut batang kemaluan saya, eh ternyata di Andi sudah berdiri di samping saya lengkap dengan kondomnya……… sialan……… cepet banget nih anak… pikir saya…….

“Cepetan dong…… Gantiannnnnnnnnnnn…… cepetan……!” Terdengar rintihan si Bella.

Saya seperti serdadu kalah perang memakai kembali celana dalam saya dan berjalan ke toilet untuk membuang kondom. Setelah itu saya berjalan ke arah sofa. Terasa lemas di seluruh sendi-sendi saya……………….

“Gimana… Enak nggak?” tanya Peter dan Gunawan sambil berbisik.

“Asyik banget…… loe coba aja sendiri………” jawab saya. Abis itu saya berpakaian (karena kedinginan) dan hampir tertidur di sofa. Tidak berapa lama kemudian terdengar teriakan histeris Bella…….

“Ahhhhhhhhhh………. uhhhhhhh……… Saya daaaaataaaaaaaaaaaannnngggg !”

Saya membuka mata saya dan saya melihat Peter dan Gunawan lagi ketawa terkekeh-kekeh dan mengintip ke arah ranjang. Karena penasaran saya ikutan mengintip. Terlihat kepala Andi di antara kedua paha Bella dan sambil kedua tangannya meremas payudaranya Bella. Bella sendiri sedang menjambak rambutnya Andi. Rupanya Bella mencapai orgasme karena hisapan dan jilatan Andi. Luar biasa, memang julukannya bukan isapan jempol belaka. Perlu saya informasikan bahwa lidah si Andi sangat panjang (mirip hantu) dan bisa menyentuh ujung dagunya. Jadi buat cewek yang suka dioral, carilah cowok berlidah panjang… hihi………….

Setelah itu terlihat Andi bangkit dan memcoba memasukkan batang kemaluannya yang panjang kurus tersebut ke kemaluannya Bella. Melihat kejadian tersebut, batang kemaluan saya kembali tegang. Memang saya ini sanggup main berkali-kali dan permainan selanjutnya daya tahan saya akan semakin baik. Inilah keistimewaan saya!

Terlihat Andi mulai menggerakkan pinggulnya dan mulai memompa. Tetapi hanya sekitar 1 menit, terlihat badan dia mengejang…. hihi…. Ternyata dia udah orgasme……

Melihat hal tersebut, secepat kilat Peter menyambar kondom yang terletak di meja dan mencopot celana dalamnya.

“Ayo… cepetan…!” seru si Peter kepada Andi. Dia tidak memberikan waktu bernafas buat Andi………

“Ayo… Yang lain…. Cepetannnnnnnn!!!” si Bella ikut berseru………….

“Gila nich cewek, hiper………..” demikian pikir saya.

Karena capek, saya akhirnya tertidur dengan senjata yang masih tegang… hihi… Antara sadar dan tidak sadar saya mendengar beberapa kali teriakan Bella. Saya akhirnya terbangun ketika Peter ikutan berteriak, rupanya mereka orgasme pada saat bersamaan. Saya memperhatikan jam tangan saya, pukul 06.30, karena tidak percaya, saya mengucek-ngucek mata saya… gila si Peter bermain selama satu jam. Sekali lagi ternyata julukan temen-temen saya bener adanya. Dan saya tau dari Andi kalo si Bella orgasme empat kali ketika bermain bersama Peter. Menakjubkan!

Dengan langkah tertatih-tatih Peter berjalan ke arah sofa. Saya melirik ke arah ranjang, terlihat Bella berbaring telentang dengan paha terbuka lebar. Matanya hampir tertutup, dia terlihat lemas…….

“Yang lainnya…… mana?” tanya Bella dengan suara lemas. Gila bener……….

Saya memandang ke Gunawan……”giliran loe sekarang……..”

Dia terlihat ragu-ragu…”ehhh………” terlihat dia sedang berjuang antara mempertahankan keperjakaannya atau nggak. Mungkin juga dia merasa malu….

“Ayo…” desak saya…

“ah…! Nggak mau……” akhirnya Gunawan memutuskan.

Saya menghargai pendirian dia, lagipula saat itu saya udah terangsang kembali melihat tubuh mulusnya Bella. Saya membuka pakaian saya, memakai kondom dan berjalan ke ranjang.

Bella membuka matanya sedikit……….

“Ayo dong………… mau lagi……” pinta dia dengan suara lemas.

Saya membalikkan tubuhnya sehingga sekarang Bella berbaring menghadap ke samping. Belahan kemaluannya terlihat basah dan sangat merah. Badan Bella sendiri sudah basah oleh keringatnya. Saya menyambar handuk dan melap badannya…… Bella tersenyum…”Ayo… cepetan…!!” Tetapi suaranya terdengar lemas……….

Dari belakang (dengan posisi berbaring miring) saya mengarahkan batang kemaluan saya dan memasukkannya secara perlahan. Dalam posisi seperti ini terasa lobang kemaluannya menjadi semakin sempit. Ketika batang kemaluan saya baru masuk setengahnya saya menggunakan tangan saya untuk memutarnya……… ah…… …… Bella merintih perlahan. Kemudian saya melanjutkan dorongan penis saya……………

Blesssss………! Akhirnya masuk juga seluruh batang kemaluan saya di vaginanya. Bella menjerit tertahan… aughhhhhhh…… Tetapi saya tidak langsung memulai goyangan pinggul saya, melainkan saya mengerakkan tangan saya melingkari pundaknya dan meremas buah dadanya. Sangat kencang dan pentilnya terasa keras…………

Karena remasan saya, Bella mulai menggerakkan pinggulnya dengan tenaga terakhirnya…. Terasa begitu nikmat dan akhirnya saya juga mulai mengeluarkan dan memasukkan batang kemaluan saya…………… masuk dan keluar dengan cepat dan bertenaga.

Cukup lama saya melakukan hal tersebut… sampai terasa pinggul Bella bergerak semakin cepat…. Semakin cepat……… saya sendiri memperdalam dan memperkuat hujaman senjata saya……….

“Ahhhhhhhhhhhhh … lebihhhhhhh cepattttttt………… ahhhhhhh…………………” tubuhnya mengejang dan menggelepar. dia udah orgasme. Saya sendiri masih belon apa-apa. Memang untuk kedua kali saya tahan lebih, apalagi ketiga dan keempat kali dan ini terbalik dengan cewek yang semakin lama waktu orgasme nya semakin cepat, betul kan?

Saya kemudian membalikkan badannya dan sekarang Bella berbaring telentang. Saya membuka pahanya. Perlahan saya menggosok-gosokan kepala batang kemaluan saya di bibir kemaluannya Bella. Cukup lama saya melakukan hal tersebut sambil memberi kesempatan kepada Bella untuk menikmati orgasmenya. Setelah itu saya kembali memasukkan batang kemaluan saya dan langsung memompa. Bella sendiri sudah lemas dan tidak bertenaga, tetapi masih terdengar desahan dan rintihannya. Mungkin karena kemaluannya yang udah basah kuyub, terdengar suara lain yang begitu menggairahkan……plok…plok…plokkkk. Hanya dalam selang 10 menit, dia kembali menggerakkan pinggul yang menandakan dia menikmati dan akan mencapai puncak kenikmatan………….

“Ah……… Ahhahhhhhhhh……… saya datangggggggg lagiiiiiiii…” Bella berseru, heran juga saya kok dia masih mempunyai tenaga ya?

Tubuhnya mengejang untuk kedelapan kalinya malam itu. Tetapi raut mukanya begitu bahagia dan cakep. Oh-ya, coba para pembaca perhatiin… cewek tuh paling cakep kalo abis orgasme dan paling jelek kalo nggak terpuaskan … Hihi… bener khan?

Abis itu saya tidak mengeluarkan batang kemaluan saya dan membiarkannya di dalam kemaluan Bella. Karena sudah bernafsu saya melanjutkan goyangan pinggul saya. Tetapi kali ini saya yang harus menyerah…. Dengan kekuatan penuh saya memasukkan batang kemaluan saya dan tubuh saya mengejang………………. Nikmatnya tiada tara…………….

Saya langsung berbaring di atas tubuh mulusnya Bella. Bella sendiri sudah tidak mempunyai kekuatan, dia hanya terdiam dan memejamkan matanya…. Dia tidak meminta tambah lagi. hihi…. Udah cukup kali………… akhirnya saya tertidur didalam pelukan dia………….

Sinar matahari yang silau membangunkan saya keesokan harinya. Bella masih tertidur dengan tubuh polos. Darah saya mendesir…. Dan senjata saya bangun kembali. Tetapi karena capek saya tidak begitu bernafsu lagi. Saya meliat Peter juga udah bangun. Saya melirik jam tangan saya, wah hampir jam 9 (kita harus check out jam 9 pas), buru-buru saya membangunkan Bella, Andi dan Gunawan……….

Setelah itu kita mengantarkan Bella pulang ke rumahnya yang terletak di Pondok Indah (sekitar 500 m dari Bank Bali). Di perjalanan dia bercerita bahwa papanya ternyata orang Korea dan sering memukul mamanya. Mamanya sendiri jarang berada di rumah. Sewaktu kecil dia pernah memergoki papanya sedang berpesta seks dengan tiga orang wanita, sungguh menyedihkan………………!

Sewaktu saya berada di Inggis, saya beberapa kali mencoba menelepon Bella dan pernah beberapa kali mengobrol dengan dia. Dia mengaku bahwa dia membutuhkan sedikitnya 5 kali orgasme setiap kali berhubungan badan. Itulah sebabnya tidak suka bermain hanya dengan satu cowok. Sekitar 3 bulan kemudian pembantu dia memberitahukan saya bahwa Bella sudah berangkat ke Korea untuk menemani kakaknya yang udah lebih dari 5 tahun berada di sana.

Saya sendiri tidak mempunyai keinginan untuk mengulangi pengalaman di atas, bagaimanapun juga saya tidak bisa menikmatinya secara utuh. Tetapi saat nasfu menjadi raja, apapun bisa terjadi bukan?

Tulisan ini dipublikasikan di K. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s