Tiny

Hari pertama liburan aku bangun agak siang, jam 08:30 aku sudah bangun, dan masih bermalas malasan di atas ranjang, dan aku ingat akan film orang dewasa, aku pasang di alat vcd kebetulan di kamarku, ada TV juga, jadi aku bisa nonton acara yang lain dengan yang diruang tamu. Film nya lumayan jelas gambarnya, dan waktu selesai dengan adegan pertama, telah membuat nafsu birahi ku keluar. Waktu adegan kedua akan mulai aku sudah melepas daster tidurku (aku memang tidak mengenakan pakaian dalam kalau tidur) tangan kananku sedang mengesek memek ku sedang kan tangan kiriku meremas remas buah dada ku. Dipertengahan adegan kedua itu napsuku sudah tak terkendali. Dan pengen punya orgasme seperti yang di film itu. Aku buka laci meja samping tempat tidurku, aku punya batangan yang bisa bergetar, dan kalau aku masukkan kememek ku, atau di gesekan sambil bergetar di sekitar memek ku rasanya enak sekali.
Waktu aku temukan, aku berbaring lagi di ranjang sambil di sangga beberapa bantal di punggungku supaya aku bisa menonton film lebih enak, dan aku kangkangkan kaki ku supaya bisa lebih mudah untuk aku mengosok memek ku. Suara di tv aku bikin nggak terlalu keras karena aku nggak mau si Anton atau Tinny tahu apa yang aku sedang lakukan. Sambil melihat adegan cowok yang sedang jilatin memeknya si cewek, aku mulai menghidupkan alat itu dan ku usap usapkan di sekitar memek ku, dan tangan satunya masih sibuk meremas remas dan memilin milin buah dada ku. “uuh…. Argh…… Ehn….. Ahh….” Itu yang keluar dari mulutku tapi masih aku tahan karena takut kalau kedengaran sampai di luar. Tiba tiba Tinny masuk dengan membawa tas dan beberapa majalah yang di pinjamnya untuk presentasi di kantor nya. “eehh…..!” Teriaknya kecil melihat keadaan ku yang sedang di atas ranjang, “maaf Mara aku kira kamu sudah pergi kerja……” Katanya sambil melirik ke arah TV ku, di taruhnya tas dan majalah ku itu, lalu cepat cepat keluar. Aku segera mengenakan dasterku lagi dan keluar kamarku menyusul Tinny. Ku lihat dia sedang di belakang memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci, kudekati dia dari belakang “sorry kalau tadi bikin kaget kamu, Tinn…… Tolong ya…. Jangan cerita ama siapa siapa atau ama Anton apa yang kamu lihat tadi, kalau kamu mau nonton, kita bisa lihat sama sama” kataku dari belakang dia. “nggak apa apa kok akunya aja yang norak nggak pernah lihat film seperti itu ” jawab Tinny, “kamunya nggak kerja hari ini…..?” Lanjutnya. “nggak aku sedang ambil libur……, Mau nyantai sebentar di rumah, aku kira in kamunya udah pergi kerja” jawab ku, “hari ini komputer di tempat kerja sedang di perbaharui, jadi percuma juga kalau masuk nggak ada yang di kerjakan, dan nanti sore aku harus telp ke sono dulu untuk ngechek udah bisa masuk blon besok nya” jawab Tinny.
Setelah kejadian itu seharian aku di kamar terus segan untuk keluar, aku cuma dengarkan musik dan membaca buku, dan pintuku setengah terbuka, supaya nggak ada yang kaget lagi. Siang nya Tinny pergi ke mall untuk membeli keperluan dirumah.
Besoknya Tinny sudah pergi kerja lagi, dan mumpung nggak ada orang di rumah aku bebas untuk nonton film orang dewasa itu tanpa ada yang ngganggu lagi.
Itu kejadian sudah 5 minggu yang lalu, hubungan ku dengan Tinny masih berlangsung biasa biasa saja, dan kita masih ber bagi rasa, dan sekarang dia malah lebih berani untuk terbuka dan menanyakan ttg masalah hubungan orang dewasa. Menurut dia, Anton sering ngajak dia untuk gituan, tapi dianya yang menolak, karena menurut dia rasanya nggak benar dan takut kalau ada rasa bersalah, belum lagi kalau sampai kecelakaan. Dan aku salut juga ama Anton yang mau ngertiin keadan ini, dan sama juga aku kaget jadi selama ini mereka tinggal satu kamar itu ternyata nggak sampai gituan. Suatu hari Anton bilang kalau dia sekarang kerjanya akan ngelembur dan pulangnya akan sampai jam 23:30 tiap hari senin sampai jumat, selama 6 bulan yang akan datang, atau sampai projectnya selesai. Kasihan juga ama Tinny nggak ada yang temanin ngobrol, jalan jalan ke mal atau pergi ke cafe. Untungnya Tinny dan aku punya kesenangan dan hobby yang kurang lebih hampir sama, jadi kita bisa saling menemani.
Mugkin karena bosan keluar rumah terus minggu yang lalu, maka malam ini kita di rumah saja sambil bikin makanan kecil, dan dengarkan lagu lagu santai saja. Setelah itu kita duduk nonton vcd sambil menikmati masakan kita di temanin dengan minuman beralkohol yang kebetulan masih ada di lemari es dan ngobrol santai saja. Tiba tiba Tinny berkata “Mara, kamu dulu punya film orang dewasa, pinjam lihat dong……” Aku sampai kaget dan terbatuk batuk tersedak minuman yang salah masuk. Aku ambil vcd itu dari tempat penyembunyian nya, dan aku pasang di alat VCD yang ada di ruang tamu. Mungkin karena pengaruh alkohol yang membuat kita masih santai saja ngobrol sambil nonton film gituan. Dan tanpa sadar tangan kiri saya masih memegang gelas, dan tangan kanan sudah turun ke selangkangan ku dan mengeseknya pelan pelan, dan kita mulai ngobrol tentang olah raga, dan ngencengin badan, aku sudah nggak konsentrasi ama yang di omongkan, karena mataku menuju ke tv dan tangan kanan ku mengesek selangkangan ku. Tiba tiba si Tinny tanya ke aku, “tangannya kok di bawah kenapa ?? Gatal ya………” Katanya sambil tersenyum nakal. Tersentak kaget, aku tarik tangan ku cepat cepat. Dan “nggak apa apa kok, tangan apa ??” Tanya ku balik, dan wajah ku moga moga masih kelihatan polos. Tinny nggak mau kalah dan sekarang duduk di sebelah ku, di tegak habis isi gelas yang ada di tangan nya. “iya nich……… Anu ku kok jadi basah, waktu nonton adegan itu, dan kalau di garuk enak juga” katanya sambil menaruh gelas yang sudah kosong itu di meja dan menaikkan dasternya sedikit, dan tangannya mengosok selangkangnya sendiri. Aku langsung aja kaget setengah mati, nggak biasanya Tinny ngomong seperti itu. Ini anak lagi teller kali aku pikir. Aku habis kan sekalian isi gelas ku dan pikiran iseng mulai keluar lalu aku perdekat duduk ku ke dia, ku raba bagian belakang telinganya dan dengan tangan satunya aku belai buah dadanya, ternyata nggak pakai bh di balik dasternya. “he…… Ehm……. Iya di situ, kalau di remas enak juga kok……. ” katanya sambil tersenyum ke aku, buah dadanya lebih besar dari yang kelihatan, dan setelah saya perhatikan, si Tinny rupanya sudah naik berat badan nya, di banding kan dengan yang di foto, oleh Anton makannya lebih bergizi mungkin. Tangan nya yang satu mengusap buah dada nya dan tangan satunya membelai rambutku dan mengusap pundak ku juga. Tangan ku sudah tidak di buah dadanya lagi, tapi sudah turun ke selangkangan nya, mengusapnya perlahan dan aku garuk garuk memeknya dari luar CD nya, aku lihat matanya sudah tertutup dan dari mulutnya terdengar suara, ehm……. Eh……. Ehm………, Dan terlihat dia tersenyum kecil dan keluar lesung pipinya, kelihatan manis sekali, tak heran jika Anton suka dengan dia. Karena aku juga ingin merasakan lebih dari itu, maka aku beranjak dari sofa, dan berlutut di depan Tinny. Aku singkapkan dasternya, tangan ku masih mengelus elus bukit kecil di selangkangan nya yang mulai kelihatan ada bercak basahnya dan aku kecup pusarnya, tak ada reaksi baru, maka aku korek pusarnya dengan lidah ku, dan Tinny pun mulai mengeliat liat. “Angkat pantatmu sedikit Tinn……” Kataku sambil berusaha untuk menurunkan CD nya. Aku lihat di balik Cdnya rambut kemaluan nya tipis, tidak terlalu lebat, bibir memeknya kelihatan kemerahan, di antara bibir memeknya telah kelihatan ada lendir yang keluar, dan di atas nya aku lihat itilnya menonjol keluar. Aku pegang itilnya dengan jari telunjuk ku dan aku goyangkan perlahan, Tinny mulai mengerang aarh……… Eehmm…… Aaahh……. Dengan suara tertahan, dan lendirnya pun keluar makin banyak lagi, dan mulai meleleh turun ke lubang pantat nya. Dengan tangan satunya aku olesi jariku dengan lendirnya, lalu aku masukkan jariku yang sudah basah itu ke lubang memeknya yang sekarang ini sudah banjir, dan keluar lagi lendir dari situ karena terdorong keluar oleh jariku. Buru buru aku jilat cairan yang keluar itu dan jariku yang telah basah itu aku arahkan ke mulut Tinny, dia sudah tidak canggung lagi, di hisapnya jariku seperti sedang menghisap penis saja. Aku masukkan lagi jari itu ke memeknya dan aku suapkan ke dia lagi, rupanya dia ketagihan, dan sekarang dengan jarinya sendiri di masukkan ke memeknya dan di jilatin sendiri. Dan lendir yang meleleh keluar aku jilat sekalian, sayang kalau terbuang percuma. Pantatnya mulai di angkat angkat ketika aku masuk kan lidah ku ke memeknya, dan goyangan nya makin menjadi jadi ketika aku hisap itilnya, sehingga aku harus merangkul kedua pahanya dari depan, supaya hisapan itil nya tidak lepas. Waktu aku masuk kan lidah ku lagi ke lubang memeknya baru reda sedikit goyangan nya “eeeehmmm………… Tadi enak hisapannya Mara, coba sini berdiri donk……” Katanya sambil menuntun aku untuk berdiri, “aku juga pengen lihat kamu punya dong……….. Mara………” Kata dia dengan bersamanya dasterku di singkapkan olehnya, tanpa minta persetujuan ku, “lihat apa sih………?” Tanyaku pura pura nggak ngerti. ” Ini lho……… Punya kamu” jawab nya sambil tangan nya mengusap gundukan daging di selangkangan ku, yang sudah basah dari tadi. Aku hanya diam saja menunggu apa yang akan di lakukan selanjutnya. Dia masih berdiri di hadapan ku, tidak setinggi aku dan mulai jalan ke belakang ku dan di kecupnya tengkuk ku dari belakang, dan tangan nya mulai meraba buah dadaku, dan di dekapnya kedua buah dadaku, bibirnya masih menjilat dan mengecup belakang tengkuk ku. Aku hanya menutup mataku, sambil menikmati apa yang di lakukan nya. Tanpa memberi peringatan di susupkan tangan nya ke dalam dasterku, dan di bukanya BH ku dan satu tangan mencari pentil ku, dan tangan satunya mengesek memek ku dari luar. Aku sudah nggak tahan lagi, maka aku lepas celana dalam ku, dan duduk lagi di sofa, sedang kan Tinny sekarang sudah berlutut di depan ku, di ambilnya celana dalam ku yang ada bercak lendir dari memek ku, dan di ciumnya, “eeehhmmmmmm………… Baunya membuat ku terangsang saja…….” Katanya sambil memdekatkan mukanya ke memek ku. Di jilatnya memek ku dan jarinya pun ikut masuk ke situ, dan waktu di keluarkan jarinya basah kuyup dengan lendir ku, dan di jilatin jarinya, aku pun dapat bagian, telunjuk nya yang lentik aku hisap, seperti menghisap penis yang kecil. “Tinn……, Langsung saja ke sumbernya…….” Kataku sambil membetulkan posisi duduk ku. Dan lidah Tinny langsung memasukan lidahnya ke lubang memek ku, di jilatin nya dinding samping memek ku dan dengan tangan nya yang satu di carinya itil ku, “mana sih……… Itil nya…. Kok nggak ketemu ?” Tanya Tinny dari balik memek ku, dan dengan satu tengan aku rekah rambut di memek ku, supaya kelihatan lubang nya, dan dengan tangan satunya aku singkapkan bibir memek ku “tuh…. Di atas lubang ini kelihatan nggak ada seperti pentil kecil ? Itulah itil ku” “oooooh………. Itu……..” Jawab Tinny. Sekarang bukan lubang memek ku yang jadi perhatian nya, tapi itil ku di jilatnya perlahan, dan dan di hisapnya. Itu membuat aku kegelian, dan aku goyangkan pantatku, dan oleh Tinny di tekannya supaya jangan goyang terlalu banyak. Waktu Tinny sedang di bawah jilatin dan hisap itil ku, tangan ku sedang asik meremas remas kedua buah dadaku, dan putingnya nggak ketinggalan aku pilin pilin.
Karena nggak tahan lagi maka aku ajak Tinny untuk berdiri,dan aku cium di bibirnya, ada rasa lendirku sedikit di situ, aku hisap bibir bawahnya, dan gigitan kecil di bibirnya, membuatnya gregetan, lidahnya masuk ke mulut ku mencari lidah ku, dan aku gunakan kesempatan ini untuk menangkap lidahnya dan aku hisap dengan perlahan dan waktu lidah ku beradu dengan lidahnya seperti dua ular yang bertarung. Tangan Tinny tidak tinggal diam, meremas remas buah dadaku bergantian, dan memek ku juga di geseknya perlahan. Tangan ku juga ikut meremas pantatnya yang padat itu, dan aku juga mencari lubang pantat nya, supaya aku bisa memainkan nya juga. Karena nggak berhasil menemukan lubang pantatnya, maka aku lepaskan ciuman ku dan aku ajak dia untuk ke sofa panjang. Aku turunkan retsleting dasternya, dan aku lepas kan dasternya, yang kemudian jatuh ke lantai, aku juga buru buru membuka daster ku, kemudian berbaring berbaring di sofa, dan aku suruh dia untuk telungkup di atas ku, supaya kita dapat melakukan 69.
Lidah ku langsung menuju ke lubang memek nya menjilatin dan mengihisap lendirnya, kedua tangan ku merangkul pantatnya, sekarang aku lebih leluasa untuk meremas nya juga. Jilatan ku tidak berhenti sampai di situ saja, mulai aku kecup dan jilat kulit antara lubang pantat dan memeknya, yang membuatnya kegelian dan mengoyang kan pantatnya, memeknya pun di sumpalkan ke muka ku, basahlah muka ku oleh lendir dari memeknya.
Tinny juga tidak tinggal diam dlm waktu yang sama di tariknya bibir memek ku supaya terbuka, dan di jilatin nya itil ku, dan lidah nya masuk ke dalam lubang memek ku, dengan mulutku masih di memeknya Tinny aku hanya bisa mengeluarkan erangan seperti “eehh……… Eehmm……..”dan ketika di hisapnya itilku aku hanya bisa mengeliat kegelian dan mengerang aaaarrgh…….. Ke enakan.
Lendir dari memeknya aku oles kan ke lubang pantatnya, dan mulai aku masuk kan jari telunjuk ku, lubang pantatnya masih perawan, dan agak sempit, “Tam, jangan donk…….. Sakit ……….. Ah……..” Katanya sambil berusaha untuk menghindar, dari sela sela memeknya aku jawab “nggak apa apa……… Ntar kalau udah terbiasa juga enak lho……… , masukin aja jarinya kamu ke lubang pantat ku, pelan pelan ya……….” Dan aku berasa jari Tinny mulai masuk, dan memek ku masih di jilatin nya.
Setelah kurang lebih 10 minit kita saling menjilat dan menghisap. “Tinn….. Stop berhenti sebentar aku ada ide…….” Kataku sambil aku tepuk pantat nya, dan aku suruh dia untuk turun dari atas tubuh ku. “sekalian tolong tuang minumnya, dan campurin ama itu Camparinya….” Kataku sambil berjalan ke dapur, aku ambil dua pisang yang aku beli dari pasar kemarin. Dan waktu kembali, aku lihat Tinny sedang minum dari gelas nya dan tangan satunya sedang merapikan rambut nya. Lalu aku ambil satu pisang, nggak terlalu besar, tapi lurus nggak tahu itu pisang apa namanya, “lapar ya……. Mara ??” Tanya nya dari balik gelas, “nggak terlalu kok………… Cuma ini makan nya rada lain……..” Jawab ku sambil mendekat ke dia. Aku ambil gelas dari tangan nya, untuk di taruh di meja. Aku beri kecupan di bibirnya, tapi tangan Tinny menahan kepalaku dan bibirnya melumat bibirku, lidahnya kembali memangut lidahku, dan aku tangkap, dan hisap pelan pelan, sambil tangan ku mengusap memek nya, Tinny hanya bisa ber suara “uuh………… Aakh………..” Saja. Dan aku suruh dia untuk duduk di sofa lagi, lalu aku berjongkok di depan nya, dan aku buka bibir memek nya, dan aku jilatin perlahan memek bagian dalamnya, kakinya sudah nggak bisa diam dan di angkatnya kedua kakinya dan di taruh nya di pundakku, satu tangan dia menahan kepalaku supaya menekan ke memeknya lagi, sedangkan tangan satunya meremas buah dadanya. Setelah beberapa saat, “aku nggak bisa napass…….. Aah….. Jangan di tekan terus gitu donk………..” Kataku sambil menarik kepalaku, “sorry Mara……… Enak sih…….. Di jilatin di situnya……..” Kata Tinny sambil nyengir. “dengan ini akan lebih enak lagi………..” Jawabku sambil menunjukan pisang yang sudah aku kupas itu, “emangnya buat apaan……..? ” tanya Tinny dengan muka yang lugu sekali. “udah senderan saja……..” Kata ku sambil menaruhkan ujung pisang ke memek nya. Pertama tama aku hanya mengesek gesek unjung pisang itu saja, dan lendir yang keluar sudah agak banyak, lalu dengan perlahan aku masukkan pisang itu ke dalam memeknya, pertama hanya sedikit saja, 2 cm dan aku tarik lagi, aku keluar masuk kan sepanjang 2cm saja, lalu setelah beberapa saat aku masukkan lagi lebih dalam sampai 5-7 cm, dan aku kocok memek nya dengan pisang, aku lihat kalau dia ke enakan dan mulai mengerang erang “eeerhhh……….. Aakhhh………… Ehmmm………..” Dan tangan nya masih meremas remas buah dadanya sendiri. Pisang nya telah di basahi dengan lendir yang keluar dari memeknya, untung pisang nya nggak terlalu matang, jadi nggak terlalu blepotan. Aku masih kocokin memeknya sambil aku hisap itilnya juga, lendir yang keluar banyak juga dan akhirnya ke seluruhan pisang dapat masuk, dan dengan otot di memek nya Tinny bisa mendorongnya keluar lagi. Dengan lidah ku aku dorong masuk lagi, itilnya masih aku gesek perlahan, dan dengan tangan satunya aku bantu dia untuk remas buah dadanya. Setelah agak lama ternyata pisangnya mulai agak lembek, dari pada di buang, aku makan sedikit demi sedikit, sambil aku dorong keluar masuk juga, pisang nya manis, dan ada asin asin nya juga. “kok berhenti………..” Tanya Tinny ketika pisangnya habis aku makan dan tidak ada lagi yang keluar masuk memek nya. “habis ama aku, memek kamu makannya barengan ama aku tadi. Tapi ini ada timun kita bisa pakai barengan lagi” kataku sambil aku berikan  ketimun nya ke dia, “coba gantian kamunya yang makan timun nya” kata Tinny. “udah….. Kenyang makan kue tadi, dan juga pisang…..” Jawab ku. “yang makan bukan yang di atas, aku mau suapin mulut mu yang di bawah…….” Kata Tinny. Dan timun nya di gosok biar bersih katanya. Aku bantu dia dengan duduk segera di sofa, dan aku buka selangkangan ku, juga aku gosok memek ku perlahan. Ketika Tinny sudah berjongkok di depan ku, aku bungkuk kan badan ku dan ku cium dia di bibirnya, dan aku cubit pentilnya, dia hanya bergelinjang kegelian, dan buah dadanya meloncat naik turun. Aku buka bibir memek ku, lidah Tinny langsung masuk ke memek ku, membuatku melonjak kaget, dan di gigit kecil pahaku bagian dalam, yang menambah kegelian ku, dan aku berasa ada lendir yang keluar dari memek ku, tangan satu saja yang memegang bibir memek ku, sedang kan tangan satunya mulai meremas buah dada ku sendiri atau mengarahkan kepala Tinny ke posisi yang aku inginkan. Setelah beberapa saat aku suruh dia untuk memasukan “aaahkkk…………. Eehhmmm…………. Pelan pelan seperti aku tadi donk………” Kataku sambil meremas bantalan kursi yang ada di samping ku……. Agak pegal juga karena sudah lama nggak aku masukin apa apa di memek ku itu. Sekarang memek ku mulai di kocok dengan timun dan aku naik kan kaki ku ke pundak Tinny biar lebih santai, “Tinn…… Jari kamu di basahi dengan lendir yang dari memek ku lalu masuk in ke lubang pantat ku donk……..” Kataku dan tangan ku masih sibuk meremas remas buah dadaku. Waktu jari Tinny masuk ke lubang pantat ku, berasa sakit sedikit, dan masih ada rasa pegal dari memek ku. Setelah beberapa saat, “Tinn…… Aakhh……….. Too….long di…… Ge…sek…… Itil……. Ku…… Aakhh……. Biar…. Enak…….. Gitu…… Uuhmm……..” Kataku terbata bata, dan tangan Tinny yang tadi nya mengocok memek ku dengan timun itu aku ambil alih, betul juga ketika tangan Tinny mulai mengosok itil ku aku berasa pegal…….. Sekali di memek ku dan rasanya seperti kepingin pipis aja. “terus….Mara….. Terus…….. Banyak keluar cairan nya……” Kata Tinny ketika orgasme ku telah tercapai. Dan rasanya capek juga. Akhirnya aku terkulai lemas sambil berpelukan.
Aku kecup hidung nya, lalu turun ke bibirnya, dan lidah Tinny mulai masuk ke mulutku, lidah ku pun menjilat bibirnya seperti anak kecil yang sedang menjilat ice cream, dan aku hisap bibir bawah nya dan bibir atasku di hisap nya juga. Kita punya tangan pun tidak tinggal diam, tangan Tinny ingin meremas buah dadaku tapi aku selalu menangkis nya, hanya berlagak jual mahal saja, begitu juga tangan ku meskipun menangkis dia punya tapi, aku juga berusaha untuk meremas dia punya, dan beberapa saat kemudian. Birahi kita sudah mulai terasa lagi dan “Tinn….. Coba deh ambil timun nya tadi, eehh…… Yang itu saja deh…….. Kelihatanya lebih panjangan….” Kata ku sambil menunjuk timun yang masih ada di tas plastik, “di bersihin dulu ya……… Mara…….” Katanya sambil mengosok timun itu.
Ketika sudah siap, aku panggil dia untuk masuk ke kamarku, aku telah pasang film orang dewasa lagi di vcd yang ada di kamarku. Lalu aku ajak dia untuk naik ke ranjangku. Sewaktu aku berbaring aku bilang ke Tinny untuk berbaring juga di ranjang ku dan kaki kita saling mengapit, dengan arah yang berlawanan, sehingga memek ku bergesekan dengan memeknya dia, dan dia lebih suka lagi ketika aku suruh dia untuk memegang kedua pergelangan kaki ku dan begitu juga aku. Sekarang aku ada kontrol untuk kakinya dia dan bagaimana aku mau mengarahkan memek dia, begitu juga dia. Setelah beberapa saat memek kita saling bergesekan, dan punyaku mulai terasa basah, begitu juga punya Tinny. “tadi ketimun nya mana ?? Mau di pakai nich……” Tanyaku. Waktu aku terima timun itu aku gosok ke memeknya dia, supaya dapat lendirnya, dan juga yang ujung satunya aku gesek ke memek ku. Setelah itu aku masuk kan timun itu ke memek ku, dan ujung satunya perlahan aku arahkan dan masuk kan ke memek Tinny. “aaakhh………….. Mara, sa….. Kit……….. Ahhhh…………..” Kata Tinny, ketika setengah dari timun itu masuk ke memek nya. Dan sekarang ketika aku goyang pinggulku dengan perlahan, aku berasa ketimun nya masih tertinggal dan kadang ikut juga, yang berarti keluar masuk dari memek Tinny juga. Tinny dan aku masih saling memegang pergelangan kaki kita, dan timun nya masih di kocok di memek kita masing masing. Dan dengan otot yang ada di memek kita, aku dapat mendorong timun nya ke luar dan di terima di memek Tinny, lalu dia mendorong balik ke memek ku, sedang kan memek kita rapat menempel dan itil kita juga saling bergosokan, setelah beberapa saat, ada rasa pegal di memek ku, dan juga seperti ingin kencing “aaahh…… Tinn…….. Pengen sampai ini klimaks nya………..” Kataku sambil terus mengosok memek ku ke memek Tinny. Dan tiba tiba “brrak……….” Suara pintu depan di banting, aku langsung menengok ke jam dinding di kamar ku, nggak terasa jam telah menunjuk kan jam 23:14, “jam segini kok Anton sudah pulang” kataku ke Tinny. Saat itu Tinny dan aku masih dalam ke adaan shock, karena Anton pulang lebih awal, dan yang lebih mengagetkan lagi adalah pintu kamarku masih terbuka lebar. “Tinny………, Mara………” Teriak Anton, dan ketika sampai di depan pintu ku, Anton menengok ke kamar ku, Tinny dan aku belum sempat untuk bersembunyi atau menutupi badan kita, memek kita masih saling menempel, dan timun nya masih di dalam. Dan ketika Anton melihat apa yang sedang kita lakukan. Mukanya menjadi merah, dan tertengun sebentar, begitu juga kita yang di kamar, hanya diam mematung. Kemudian “kok….. Nggak ngajak ajak aku sih………..” Katanya sambil tersenyum ke kita, dan pergi menuju ruang tengah. Kita yang dari tadi mematung, aku cubit paha Tinny “gimana……. Tuch ketahuan ama cowok loe………” Tanyaku sambil perlan pelan melepas kan timun yang masih ada di memek kita, “kamu gimana ……….?? Mau nggak dia ikutan………..” Tanya Tinny balik, “malu ahh…………. Ama dia, kan dia bekas teman kerja ku……..” Jawab ku sambil memakai kaos, seadanya, dan aku lemparkan sarung ku ke Tinny, “nggak apa apa lah………. Kan sekarang udah nggak kerja bareng ini………, Atau takut di laporin ke Nady……..??” Jawab Tinny sambil memakai sarungku di pinggang nya saja, dan di biarkan nya dadanya bergelajutan dengan bebas. “sialan ini anak…….. Diam diam menghanyutkan juga……..” Pikirku dalam hati.
Aku lihat Anton sedang membelakangi ku, dan Tinny sedang berbicara dengan dia. “kamu gila ya……… Ama Tamara gituan……………. Kalau sama aku nggak mau, kalau ama Mara mau…….” Kata Anton sambil menuangkan air jeruk ke gelas nya, aku menguping pembicaraan mereka. “nggak……….. Tadi habis bikin makanan kecil dan ngobrol sambil minum dari botolnya kamu, dan aku rasany dekat ama Tamara, dan aku sedang napsu juga, udah lama nggak marturbasi, dan kamunya sibuk ama kerjaan, yang di rumah teman in aku cuma Tamara” sahut Tinny. “kita juga udah lama nggak maen dengan aku………..” Lanjut Tinny dengan manja, dan di rangkulnya Anton dari belakang, aku bisa melihat tangan Tinny mengusap dada Anton, dan tangan satunya lagi mulai turun ke bagian bawah, mencari retsleting celananya. “Gila……. Tinny ngajakain Anton maen bareng nggak minta pertimbangan ku dulu maen ngajak aja………… , rupanya air tenang menghanyutkan juga……… Ini anak” pikir ku. Aku lihat baju kerja Anton udah terlepas di lantai, mereka masih ciuman, dan sekali kali kedengaran Tinny ketawa kecil. Karena lama mereka sibuk sendiri, aku pikir nggak jadi, lalu aku yang udah keburu basah tapi nggak di teruskan, ya….. Udah lah…… Maen sendiri juga bisa, pikirku. Lalu aku masuk ke kamarku, ku tutup pintunya dan keluarkan mainan ku yang berbentuk seperti peluru, dan bisa bergetar itu. Aku nyalakan dan aku goreskan perlahan ke memek, dan sekitar itil ku. Aku ambil bantal dan aku cepit di pahaku, tanganku yang satu sibuk meremas, dan memilin puting ku, sedang asik asiknya maenan sendiri, tiba tiba aku di kagetkan dengan “tok..tok..tok..!!” Cukup keras, “Mara…… Mara…… Kamu belum tidur….. Kan” suara Tinny dari luar, sebelum sempat aku berdiri untuk membukakan pintu, dia udah nyelonong masuk, aku lupa kunci pintunya. “tadi timun nya belum di buang kan ??” Tanya Tinny sambil jalan menuju sisi ranjang sebelah satunya mencari timun yang kita pakai tadi, aku taruh di atas tas plastik. “si Anton gimana…….?? Kok nggak ama dia ??” Tanyaku sambil melepaskan bantal yang aku kepit. “tuh….. Dia di situ mau ikutan ……… Katanya……..” Jawab Tinny sambil menunjuk ke pintu, aku kaget sekali, dan berusaha mencari apa saja untuk menutupi tubuhku yang bugil itu. Ketika aku lihat Anton, berdiri di pintu telanjang bulat dengan penis nya setengah berdiri. “eh……….. Eloe gila mau bertigaan……?” Tanya ku. “aku hisap dia punya dan kita pakai timun nya itu lagi………” Jawab Tinny “kenapa pakai timun segala……? Kan udah ada Anton punya…….” Tanyaku kembali sembari menengok ke arah pintu, dan melihat Anton masih senyum senyum.

Tulisan ini dipublikasikan di T. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s